Menaker Harus Menolak Perintah Presiden

Baru saja saya tadi mendengar di Radio bahwa Presiden Jokowi memerintahkan Menaker untuk menghapus persyaratan tenaga kerja asing untuk mampu berbahasa Indonesia. Alasan Presiden konon kabarnya untuk mempercepat terjadinya investasi asing.
Saya sangat kaget dan luar biasa kecewa dengan perintah Presiden tersebut. Apa yang ada dibenak Presiden sehingga harus mengeluarkan perintah seperti itu? Apakah Presiden Jokowi sedang dalam keadaan Panik dengan situasi Ekonomi sekarang?
Apakah memang syarat tenaga kerja asing harus mampu berbahasa Indonesia adalah kendala utama bagi macetnya investasi di Indonesia, sehingga seorang Presiden yang mengklaim sebagai seorang Nasionalis, seorang diri memerintahkan untuk menghapus kan syarat tersebut?
Apakah Jokowi sudah lupa akan janjinya pada debat Capres untuk membuat Barrier-Barrier agar Indonesia tidak menjadi Pasar yang sangat liberal?
Bukankah masih banyak pengangguran di Indonesia yang membutuhkan pekerjaan, sehingga suatu syarat yang sebenarnya cukup proteksionis memang masih dibutuhkan?
Di manakah kemudian basis kemandirian Trisakti Bung Karno diletakkan dalam hal ini?
Jika saya jadi Menaker, saya akan melawan Perintah Presiden tersebut. Karena bagaimana pun Pasar tenaga kerja di Indonesia jika dibuka menjadi basis Pasar bebas tanpa proteksi akan sangat merugikan Masyarakat luas.
Dari dulu saya melawan berbagai prinsip yang merugikan kaum buruh dan pekerja. Sekarang pun gagasan seperti ini harus dilawan.

Poempida Hidayatulloh
Ketua Umum ORKESTRA
Organisasi Kesejahteraan Rakyat

PIKIR INDONESIA

PIKIR INDONESIA
Karya Poempida Hidayatulloh

Upaya sudah sedia
Aliran darah memerah
Perjuangan bukan hanya Angan
Kematian di Ujung jalan

Titian suatu perjalanan
Menuju suatu kedaulatan
Semakin sulit terlukiskan
Namun tak boleh surut dikobarkan

Sang merah putih dikibarkan
Semangat juang pun hilangkan beban
Meniti kembali suatu rajutan
Impian akan kebangsaan

Pikir Indonesiaku Bukan Kikir
Pikir Indonesiaku Bukan Sihir
Pikir Indonesiaku Bukan Petir
Pikir Indonesiaku Bukan Khawatir

Pikir Indonesia harus hadir
Pikir Indonesia harus mahir
Pikir Indonesia harus mengalir
Pikir Indonesia harus mutakhir

Sulitkah kita berpikir?
Lebih mudahkah kita bicara?
Sulitkah menyadari takdir?
Lebih mudahkah berhuru-hara?

Kurang pikir membuat kita kalah
Kurang pikir membuat kita lemah
Kurang pikir membuat kita salah
Kurang pikir membuat kita berdarah

Marilah bangsaku berpikir
Renungkan semua masalah telansir
Mencari jawaban jangan kikir
Mari bersama meretas wibawa takdir

Agar bangsaku menjadi Kuat
Agar bangsaku kuasai teknologi
Agar bangsaku berdaulat
Agar bangsaku tak tertandingi

Selamat Jalan Bung Natsir Mansyur

image

Baru dari melayat Alm. Bang Aci (Natsir Mansyur) …. Selamat Jalan sobatku doa kami sekeluarga mengiringi … Baru sadar anak-anak Almarhum masih kecil-kecil. Semoga Keluarga diberikan kesabaran dan Ketabahan.

Bang Aci adalah sobat baik saya di Kadin mau pun Partai Golkar. Sebagai Senior Almarhum adalah seorang yang senantiasa memberikan semangat dan bimbingan yang baik bagi saya sebagai junior. Saya merasa kehilangan Beliau. Selamat Jalan Bang Aci…. Kebaikan dan kesetiakawananmu akan selalu kita semua kenang.

Ironi Ketenagakerjaan di Indonesia

Munculnya arus PHK yang semakin menjadi sangat signifikan harus menjadi alarm kekhawatiran yang harus secara cermat dibaca dan disiapkan solusi beserta bantalan sosialnya oleh Pemerintah.
Ironisnya hal ini terjadi bersamaan dengan maraknya arus tenaga kerja asing dari Tiongkok yang secara jumlah semakin mengkhawatirkan.
Boleh jadi mereka masuk secara legal. Namun tidak boleh kita semua lupakan akan janji kampanye Presiden Jokowi dalam membuat Barrier untuk menyeimbangkan dan memberikan peluang lebih bagi pekerja domestik.
Ketidaadilan dalam masalah ketenagakerjaan pun semakin terasa dengan banyaknya kasus hubungan industrial yang sudah inkracht dan dimenangkan pekerja tetapi tidak dapat dieksekusi.
PR Pemerintah jelas harus merealisasikan keadilan tersebut tanpa memberikan sinyal keraguan bagi investasi baru yang menjadikan isu ketenagakerjaan sebagai momok belaka.
Peran Kementrian Tenaga Kerja sebagai penegak keadilan dan pemberi kepercayaan terhadap kaum pekerja dan pengusaha memang masih jauh dari ideal. Ironisnya hal tersebut tidak diiringi dengan gagasan dan langkah-langkah nyata untuk menuju situasi ideal yang diharapkan.
Era Masyarakat Ekonomi ASEAN pun sudah di depan mata. Tidak secara pesimis melihatnya, namun perlu adanya strategi yang secara jangka panjang tidak merugikan basis ketenagakerjaan domestik yang semakin hari semakin menuntut lapangan pekerjaan yang layak.
Kekuasaan dapat memberikan jalan tersebut dan ini adalah amanat Konstitusi Republik yang tercinta ini.

Poempida Hidayatulloh
Ketua Umum ORKESTRA
Organisasi Kesejahteraan Rakyat

Dana Aspirasi Jilid 2

Dana Aspirasi DPR menjadi isu yang  ramai dibicarakan belakangan ini, walau pun pada periode 2009-2014 sebelumnya pun hal ini sudah pernah dibahas namun berakhir tidak dijalankan karena banyaknya penolakan dari publik.
Jika ada kemudian Anggota Dewan berbicara bahwa Dana Aspirasi itu harus ada karena mereka disumpah untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di dapilnya, itu sama sekali salah. Karena pada dasarnya sumpah seorang anggota dewan berbasis pada kata aspirasi tersebut. Artinya seorang anggota dewan harus banyak mendengar apa yang diharapkan oleh masyarakatnya. Aspirasi itu belum tentu outputnya berkenaan dengan masalah uang saja. Banyak sekali jenis aspirasi rakyat yang harus dibantu dan diperjuangkan oleh anggota dewan. Hal ini dapat dilihat dengan menumpuknya aspirasi Rakyat di DPR, yang dibuka masukannya melalui kotak Surat, SMS,dan email. Terakhir, masih ada sekita belasan ribu aspirasi Dan pengaduan masyarakat yang tidak/belum ditangani.
Jadi apakah dengan Dana Aspirasi itu masalah-masalah yang ada tersebut akan tiba-tiba dapat terselesaikan atau tertangani.
Selain dari pada itu jika publik banyak menolak keberadaan dana aspirasi, bukankah itu bentuk dari aspirasi itu sendiri?
Intinya berbicara aspirasi harus dimulai dengan memahami arti aspirasi itu sendiri.

Poempida Hidayatulloh
Ketua Umum ORKESTRA
Organisasi Kesejahteraan Rakyat

Sosok Maxi Gunawan Calon Ketua Umum Kadin Indonesia 2015-2020

image

Tidak terasa sudah 15 tahun saya mengenal seorang Maxi Gunawan. Seorang kawan yang saya kenal energik, setia kawan, cekatan dan mempunyai wawasan yang baik dan luas.
Saya memanggil Maxi Gunawan dengan panggilan Mas Maxi karena sama-sama berlatar belakang suku Jawa.
Saya pertama kenal Mas Maxi saat masih bekerja menjadi profesional, namun Beliau sangat mudah diajak berkomunikasi walau pun saat itu Mas Maxi Sudah menjadi pengusaha sukses dan mempunyai koneksi yang liar biasa.
Saat saya kemudian merintis usaha sendiri keakraban pun bertambah. Hingga saat ini saya menganggap Mas Maxi sebagai seorang sahabat yang sangat baik.
Beberapa minggu silam saya mendapat telpon dari Mas Maxi. Intinya Beliau menyampaikan niatnya untuk maju menjadi Ketua Umum Kadin Indonesia pada Munas Kadin mendatang.
Tanpa ragu, saya sampaikan bahwa saya mendukung penuh idea Mas Maxi tersebut dan siap membantu Beliau dalam konteks pemenangan sebagai Ketua Umum Kadin.
Dalam kehidupan berorganisasi yang saya geluti saya hanya akan mendukung orang-orang yang mempunyai kredibilitas yang baik, kompetensi yang mumpuni, kepemimpinan yang bisa jadi teladan, rekam jejak yang tidak tercoreng dan ketulusan dalam persahabatan. Semua faktor yang saya sebutkan tadi sangat melekat pada sosok seorang Maxi Gunawan.
Kekaguman saya pun bertambah saat memahami Visi Misi yang dipaparkan oleh Mas Maxi pada deklarasinya di Bandung tanggal 20 Mei yang lalu untuk maju menjadi Ketua Umum Kadin Indonesia Periode 2015-2020.
Maxi Gunawan ternyata berkomitmen untuk secara serius membantu dan bermitra dengan Pemerintah untuk memajukan dunia usaha Indonesia untuk lebih ramah investasi, tumbuh pesat, kompetitif, kuat terhadap krisis ekonomi, mandiri, bermartabat dan bersih.
Kepedulian Mas Maxi terhadap pengusaha mikro, kecil dan menengah dalam bentuk UMKM pun terpancar. Tidak hanya itu, Maxi Gunawan berkomitmen untuk membangun basis-basis usaha daerah mulai dari tingkat desa sampai nasional.
Mas Maxi pun ternyata sangat paham tentang betapa pentingnya menciptakan ketahanan pangan, energi dan air yang berkelanjutan sebagai basis terciptanya Ketahanan Nasional yang hakiki.
Yang lebih mengejutkan Mas Maxi ternyata juga mempunyai mimpi yang sama dengan saya, yaitu mewujudkan suatu keadaan di mana produk dan teknologi domestik harus menjadi tuan rumah di Negara yang tercinta ini.
Memang apa yang saya sampaikan di atas bukanlah suatu hal yang begitu mudah untuk dicapai. Perlu komitmen dan kerja keras secara berjaringan yang harmonis dan dilakukan secara terus-menerus.
Mengingat karakter Maxi Gunawan, saya tidak ragu bahwa cita-cita perjuangan itu Insya Allah bisa dicapai.
Bismillah …. Semoga sukses Mas Maxi!

Poempida Hidayatulloh
Ketua Komite Tetap Persaingan Usaha
KADIN INDONESIA

Poempida's Journal

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 33.628 pengikut lainnya.