100 HARI KABINET LEBAY

22 Januari 2010

100 HARI KABINET LEBAY
Oleh: Dr. Poempida Hidayatulloh, Wakil Presiden Kabinet Indonesia Muda

Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 (KIB2), merupakan Lembaran Baru bagi Pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak seperti Periode 2004-2009, SBY kali ini tidak mendapatkan dukungan dari Seorang JK yang terbukti piawai dalam menangani berbagai masalah dengan efektif dan cekatan. Peran JK yang membuat pemerintahan SBY-JK berhasil ternyata sampai sejauh ini tidak tergantikan oleh seorang pun anggota dari KIB2 ini. Sehingga membuat segala beban masalah yang ada, semuanya tertumpu di pundak Presiden SBY seorang diri.
Kabinet Lembaran Baru SBY (Kabinet Lebay) ini pada tanggal 27 Januari 2010 mendatang akan berumur tepat 100 hari. Pada umumnya selalu kinerja 100 hari Kabinet menjadi tolok ukur penilaian awal dari semua anggota Kabinet Lebay ini. Herannya belum sampai hitungan ke seratus hari dari Kabinet tersebut Presiden SBY telah membuat suatu pernyataan yang menarik pada sidang kabinet yang baru lalu. SBY pada dasarnya mengemukakan pernyataan bahwa apakah dalam 100 hari Rakyat akan dapat menjadi sejahtera?
Rakyat kini sudah pandai dalam menilai pemimpinnya. Rakyatpun tidak pernah mempunyai harapan berlebihan agar para pemimpinnya dapat membuat keajaiban. Namun Rakyat dapat melihat prestasi apa saja yang telah diraih oleh Kabinet Lebay ini. Tentunya masa waktu 100 hari adalah masa waktu yang cukup bagi Rakyat menilai dan bagi Pemerintah melakukan introspeksi. Dari janji politik SBY-Boediono, program kabinet dan sasaran jangka pendek pemerintah, tentunya dapat tercermin suatu parameter hasil penilaian yang obyektif sesuai dengan tolok ukur yang ada.
Tak perlu seorang berpendidikan tinggi yang melakukan penilaian, cukup seorang awam yang rajin membaca, mendengar dan menonton pemberitaan dari berbagai media, pasti dapat mengambil kesimpulan bahwa berbagai masalah yang belum juga tuntas telah terpancar dari performa Kabinet Lebay ini. Secara lebih terinci dapat dijelaskan sebagai berikut: Mulai dari permasalahan Kriminalisasi KPK; Mafia Peradilan; Ketidakpastian hukum bagi semua golongan (kasus Prita, Mbok Minah, dll); kasus penjara mewah; pemeriksaan Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kaitan dengan skandal Bank Century; Perjanjian Perdagangan Bebas; PHK Buruh; Penyerapan tenaga kerja; Munculnya angkatan kerja baru ditengah lesunya pertumbuhan ekonomi; mobil dinas mewah para pejabat; krisis listrik; dan sampai pada potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak yang dipacu naiknya harga minyak bumi dunia.
Gerakan yang lambat dan kurang responsifnya Kabinet Lebay ini sangatlah terasa. Terlebih lagi semua pemberitaan media nyaris semua tertuju kepada berbagai persoalaan yang timbul. Sehingga prestasi dari Kabinet Lebay pun hampir tak terdengar.
Pertanyaan yang seyogyanya timbul dibenak para anggota Kabinet Lebay ini adalah “Apakah Rakyat puas?”, “Apakah Rakyat sabar menunggu?”, “Apakah Rakyat akan marah?” dan tentunya “Apakah saya sebagai anggota kabinet sudah melaksanakan Amanat Rakyat dengan baik?”
Jika pertanyaan-pertanyaan seperti di atas selalu timbul dibenak para anggota Kabinet Lebay ini tentunya gerakan dan respon yang cekatan dalam menanggapi berbagai macam perkembangan dan situasi nasional akan selalu menjadi prioritas.
Kemudian, jika para anggota Kabinet Lebay ini tidak segera melakukan introspeksi diri dan segera mengubah tata kerja dan cara berfikirnya, janganlah kemudian disalahkan jika lalu Rakyat menjadi sangat kritis dan bahkan menyuarakan untuk reshuffle kabinet. Secara lebih ekstrim lagi bisa saja terjadi suatu gerakan moral yang menginginkan segera digantinya pemerintahan. Gejolak ini sudah menggeliat dan akan terus menggeliat sampai terjadi kepuasan dengan performa dan kinerja Kabinet Lebay ini.
Ada satu fenomena yang sangat lucu belakangan ini. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi para penyedia jasa survei yang normalnya paling tidak setiap satu bulan sekali mengumumkan tingkat popularitas Presiden dan pemerintah di mata Masyarakat. Namun jika kita simak yang terjadi belakangan ini tidak pernah terdengar ada suatu hasil survei dari para penyelenggara survei ini yang beberapa waktu silam begitu kian marak melakukan aktifitasnya.
Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah memang mereka tidak mendapatkan dana untuk melaksanakan survei? Ke mana para penyandang dana yang dulu sangat senang memainkan survei untuk uji popularitas itu? Yang jelas pihak penguasa tentunya tidak akan berkenan melakukan spekulasi di mana jika popularitas mereka ini ternyata benar-benar jatuh bisa dijadikan konsumsi politis. Lebih jauh lagi tentunya akan semakin memicu sesuatu yang dinamakan gerakan moral yang dapat berakumulasi menjadi suatu bola salju yang siap menjatuhkan si penguasa.
Tidak ada yang dapat membendung impact dari bola salju gerakan moral yang semakin membesar ini. Dari kacamata politik semua elemen pendukung terbentuknya bola salju ini sudah sangat jelas. Ketidak-konsisten-an Partai pendukung koalisi pemerintahan di parlemen sudah sangat nampak. Partai-partai koalisi non Partai Demokrat sudah memposisikan diri untuk menabung citra sebagai persiapan pemilu 2014. Hal ini sangat terasa dalam sepak terjang Partai-Partai tersebut di dalam arena Pansus Bail-Out Bank Century.
Partai-partai ini lebih cenderung bermain sebagai oposisi praktis dengan harapan akan mendapatkan dukungan Masyarakat di Pemilu mendatang. Sedangkan Partai Demokrat dibiarkan bersolo karir melakukan pembelaan–pembelaan yang nampak kurang cerdas. Hal ini terutama tidak didukungnya oleh kemampuan dan kapabilitas kader-kader Partai Demokrat yang berada di Pansus maupun sebagai anggota Parlemen secara umum.
Dengan sangat mudah dapat disimpulkan bahwa dukungan Parlemen secara De Facto kepada pemerintah sangatlah lemah. Tentunya akan lebih parah lagi jika Partai-partai koalisi non Partai Demokrat ini melakukan tawar-menawar politik sehingga wibawa pemerintah akan secara otomatis akan dipertanyakan.
Jika Pemerintah tidak mengakomodasi permainan tawar-menawar ini dan membuat Partai-partai koalisi non Partai Demokrat menjadi tidak puas, akan membuat permainan politik intra parlemen semakin memanas.
Kericuhan yang tertangkap secara publik di Kepolisian pun menjadi elemen pendukung lainnya. Selain daripada itu pun elemen ini dilengkapi dengan banyaknya ketidakpuasan di kalangan TNI dengan kebijakan-kebijakan penggantian pimpinan yang dibuat Pemerintah.
Di luar parlemen, gerakan aktifis ekstra parlementer semakin hari semakin terkonsolidasi dengan baik. Tinggal menunggu suatu momentum yang dapat membuat gejolak sebagai klimaks dari berbagai permasalahan yang tak kunjung terselesaikan.
Dengan demikian, ketidakpuasan terhadap kinerja Kabinet Lebay yang tengah terjadi di masyarakat yang didukung dengan elemen-elemen tadi di atas sudah menjadi suatu resep yang mujarab bagi terjadinya suatu bola salju gerakan moral.
Lalu bagaimana nasib yang akan menimpa Kabinet Lebay ini? Memang masih ada waktu bagi para anggota Kabinet Lebay ini untuk bermanuver. Namun waktu tersebut tidak begitu banyak. Nasib Kabinet Lebay ini akan ditentukan oleh para anggotanya sendiri. Mari kita semua saksikan saja akhir cerita mengenai Kabinet Lebay ini.

Share this

Satu pemikiran pada “100 HARI KABINET LEBAY

  1. Cm mslahnya golkar kan ikut koalisi. Skrg mw apa? Pemakzulan? Ganti B dan SMI? SP HBX keluar aj dr dari golkar, udh ada nasdem bikin partai aja. Kita smua tw arahnya kmana.

Tinggalkan Balasan