Masalah diselesaikan dengan Masalah

Masalah diselesaikan dengan Masalah
Oleh Poempida Hidayatulloh
Wakil Presiden KIM

Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kompleksitas ini menyebabkan suatu perilaku sistem yang memerlukan kecermatan dalam menyikapinya. Terlebih lagi dalam pendekatan penyelesaian masalah yang senantiasa muncul di dalam kompleksitas kehidupan manusia ini.
Peter Senge merumuskan bahwa agar dalam penyelesaian suatu masalah itu seseorang mendapatkan suatu “high leverage” (keunggulan, kejituan, berdampak luas, dan tidak ada efek samping) maka orang tersebut harus memiliki paling tidak 5 wawasan, yaitu: dapat berpikir secara sistem (System Thinking), penguasaan personal (Personal Mastery ), pola mental (mental model), visi yang sama (shared vision), dan pembelajaran tim (Team learning).
Berpikir secara sistem adalah pemikiran yang didasarkan pemahaman yang menyeluruh sampai seluruh elemen-elemen terkecil dan keterhubungannya di dalam suatu sistem. Semakin lengkap pemahaman seseorang tentang sistem itu, semakin besar peluangnya untuk menyelesaikan masalah yang muncul dari sistem tersebut.
Penguasaan personal yang meliputi kontrol emosi, pemahaman norma, penegakan moral dan kedewasaan berpikir seseorang akan memberikan nilai tambah yang siginifikan dalam proses penyelesaian masalah.
Pemahan pola mental dari setiap pelaku yang berada di dalam sistem adalah bagian yang tidak kalah penting dala proses penyelesaian masalah.
Visi penyelesaian masalah pun harus dapat di sosialisasikan dengan baik sehingga baik subyek maupun obyek yang terlibat di dalam sistem dapat mempunyai visi yang seragam dalam pemahamannya mengenai proses penyelesaian masalah tadi.
Yang terakhir, pembelajaran tim adalah krusial dalam implementasi penyelesaian masalah. Karena pada dasarnya dalam menghadapi masalah dengan tingkat kompleksitas yang tinggi diperlukan kebersamaan dalam penyelesaiannya.

Pendekatan penyelesaian masalah (Problem Solving) banyak diperkenalkan dalam berbagai kuliah yang berhubungan dengan kepemimpinan (leadership lecture). Bahkan di Amerika Serikat, setiap calon pemimpin (manager, direktur, gubernur, senator dll) diwajibkan untuk mengikuti kursus “problem Solving” ini.

Mengapa di Indonesia tidak diterapkan? Padahal metode penyelesaian masalah yang keliru dapat berimplikasi menjadi masalah baru di kemudian hari.

Inilah sebabnya mengapa belakangan kita selalu melihat berbagai masalah muncul akibat dari kebijakan penyelesaian masalah yang dibuat sebelumnya.

Ayolah, kita belum terlambat. Jangan pernah merasa sudah tidak perlu belajar kembali.

Share this

Tinggalkan Balasan