Selamat jalan “Bengawan Solo”

Oleh Poempida Hidayatulloh

Siapa yang tidak tahu lagu Bengawan Solo? Wah, kalau tidak terlalu, sungguh keterlaluan dan harus segera mencari tahu. Karena Lagu Bengawan Solo adalah salah satu karya budaya nasional yang otentik dan sangat identik dengan Indonesia.

Lagu tersebut diciptakan di tahun 1940 oleh Gesang Martohartono (1 Oktober 1917 – 20 Mei 2010) yang baru saja meninggalkan kita semua. Mengapa lagu ini menjadi sangat legendaris? Bukan saja dikarenakan oleh alunan nadanya yang mendayu dan sangat berkesan di benak kita semua. Tetapi juga rekognisi orang-orang asing terhadap lagu ini yang dapat menjadi referensi khas ke-Indonesia-an.

Saya pribadi mempunyai kenangan yang sangat luar biasa dalam dengan lagu ini:

  1. Bapakku seorang penggemar musik, termasuk keroncong. Semasa aku masih kecil, Bapakku sering mendendangkan lagu tersebut atau menyiulkan lagu tersebut disaat lenggangnya.
  2. Pada saat belajar di sekolah dasar, lagu Bengawan Solo ini masuk ke dalam lagu-lagu nasional yang harus kita kenal. Dan sering mendapat pertanyaan ujian pada mata pelajaran IPS, PMP atau Kesenian mengenai siapa pengarang lagu ini.
  3. Ketika remaja, ada beberapa filler di TVRI yang memakai lagu tersebut sebagai musik di latar belakang.
  4. Kettering, Northamptonshire, Inggris 1992, saya menyanyikan lagu tersebut bersama teman-teman pada saat ramah-tamah dengan Orang Tua siswa kolegaku yang sedang menjenguknya.
  5. 1999-2004, semasa aku berkarir dan banyak diperjalanan, lagu ini menjadi hiburan musik di pesawat terbang, terutama dalam penerbangan Garuda.
  6. Di Dusseldorf, Jerman, tahun 2004, saya tengah makan di satu restoran, dan mendengar lagu tersebut di putar walapun secara instrumentalia.
  7. Jakarta, tahun 2006, Restoran Jepang Midori Mayestik, menikmati masakan Jepang sambil mendengarkan live keroncong lagu Bengawan Solo.
  8. Perbatasan China dan Korea Utara, tahun 2007, saat makan siang dalam rangka lawatan tinjauan Kawasan Industri di daerah tersebut, saya mendengar lagu ini dimainkan dalam bahasa china di sebuah restoran.
  9. Taipei, Taiwan, tahun 2008, saat diundang oleh adik dari Wapres Taiwan saat itu dalam suatu jamuan makan, diminta bernyanyi bersama lagu ini.
  10. Yogyakarta, Rapat Konsultasi Partai Golkar tahun 2008, Pak JK menjenguk Gesang mendengar kesehatan Gesang yang mulai menurun.
  11. Jakarta, 21 Mei 2010, Lagu tersebut diputar terus menerus di seluruh media elektronik sebagai penghormatan kepergian sang Maestro, Gesang.

Hidupku selalu lekat dengan “Bengawan Solo”. Terima kasih Gesang untuk menciptakan lagu yang sangat berkesan ini. Selamat jalan. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik untukmu di sisi Nya.

Share this

Tinggalkan Balasan