Golkar VS Demokrat, Perang Pencitraan

Golkar VS Demokrat, Perang Pencitraan

Oleh Poempida Hidayatulloh

Sesuai dengan judul artikel ini di atas, memang sangat tidak “fair” jika saya melakukan pembandingan antar dua Partai Politik besar ini, karena saya adalah kader Golkar tulen yang tetap konsisten dalam membela Golkar dalam keadaan sulit maupun senang. Namun apa yang saya paparkan di sini adalah berupa analisa dari hasil nalar yang sangat obyektif dengan harapan dapat menjadi catatan dan perbaikan bagi Partai Golkar ke depan.

Kini, Pasca Kongres Partai Demokrat 2010, berat sudah bagi Partai Golkar untuk mengklaim bahwa Golkar adalah Partai yang paling Demokratis. “Brand Image”¬† yang disandang oleh Partaiku tercinta ini, ternyata tersalip oleh pencitraan positif yang tiba-tiba disandang oleh Partai Demokrat, yang kebetulan sesuai namanya telah mengklaim bahwa PD adalah Partai yang sangat Demokratis. Tidak hanya itu saja PD dicitrakan telah berhasil menyelenggarakan suatu proses demokratisasi internal partai yang terbuka dan transparan, dengan suksesnya menyelenggarakan pemilihan Ketua Umum yang terbuka secara langsung melalui Media, sehingga Partai Golkar tidak lagi memiliki klaim yang unik bahwa PG adalah satu-satunya Partai yang mampu melaksanakan hal tersebut secara internal.

Perlu diingat lebih lanjut, dampak dari pertempuran sengit di Munas Gokar pada Bulan Oktober 2009 lalu membuahkan perpecahan faksi di Golkar yang sangat terasa dan dapat disaksikan oleh publik secara luas. Jika konsolidasi Partai Demokrat pasca Kongres 2010 berjalan mulus, maka Partai Golkar berada dibelakang Partai Demokrat dalam segi pencitraan konsolidasi internal partai. Dalam hal ini Posisi Partai Golkar akan lebih rentan secara Organisasi. Sangat diperlukan adanya manuver-manuver politik baru untuk merehabilitasi posisi pencitraan ini dengan cara rekonsolidasi dan merangkul kembali simpul-simpul kekuatan Golkar baik di pusat maupun di daerah.

Yang juga secara pencitraan telak dimenangkan oleh Partai Demokrat adalah bahwa Partai Demokrat secara demokratis telah berhasil memunculkan figur muda untuk memimpin Partai tersebut ke depan. Sedangkan Partai Golkar, dengan segala hormat kepada Bang Ical, yang memang sangat mampu dan kapabel, masih dipimpin oleh generasi Senior. Hal ini membuat daya tarik Partai Demokrat di kemudian hari menjadi lebih bagi para politisi muda, akitifis mahasiswa dan pemilih pemula. Partai Golkar harus bekerja keras untuk dapat meyakinkan segmen pemilih untuk dapat menciptakan daya tarik yang sama atau lebih. Solusinya Bang Ical harus banyak menampilkan tokoh-tokoh muda yang mampu secara miltansi, intelektual dan kapabilitas untuk mendukung gerakan Politik Beliau untuk memajukan Golkar terutama dalam isyu yang satu ini.

Selain daripada itu, Golkar masih harus dapat membersihkan “image” Partai dari kesan bahwa kader-kadernya sarat dengan masalah hukum. Ini bukan sekedar hanya isyu pencitraan yang dapat dianggap remeh. Namun memang secara tegas Bang Ical harus dapat menyelematkan Partai Golkar dengan melakukan tindakan-tindakan tegas dalam “membersihkan diri” secara internal. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, pencitraan apa pun yang dilakukan Golkar dengan Uang sebanyak apapun akan sia-sia belaka. Ini memang suatu pil pahit yang harus ditelan untuk menyembuhkan dari penyakit yang kronis.

Golkar masih mempunyai kelebihan yaitu didukung oleh kader-kader yang mumpuni dan berkualitas baik dari kader-kader senior maupun kader-kader mudanya. Hal ini memang diakui oleh Partai-Partai lain dan juga media. Hendaknya kekuatan Golkar yang satu ini harus segera dimanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai terjadi deteriorasi kepercayaan diri di kalangan kader Golkar yang disebabkan oleh masalah-masalah di atas.

Selain daripada itu kekuatan Partai Golkar di daerah pun berdasarkan jumlah kekuatan politik melalui jumlah kepala daerah yang dimenangkan oleh Golkar sebelumnya jangan sampai menciut dikarenakan kekalahan di Pemilukada-Pemilukada yang sedang berlangsung. Karena politik daerah sangat ditentukan oleh posisi kepala daerah terpilih.

Semoga saja Bang Ical membaca artikel ini sehingga dapat memberikan suatu catatan yang dapat menjadi bahan pertimbangan Beliau dalam mengambil langkah-langkah Politik bagi Partai Golkar ke depan.

Masih ada waktu bagi Partai Golkar untuk berbenah dan mempersiapkan diri untuk secara head to head berkompetisi dengan Partai Demokrat di Pemilu 2014. Semoga sukses senantiasa mengiringi Partai Golkar.

Visit Poempida’s Journal

Share this

5 pemikiran pada “Golkar VS Demokrat, Perang Pencitraan

  1. Pemikiran yang realistis terhadap permasalah yang ada. Politisi muda harus menjadi tulang punggung kemenangan partai politik, hilangnya nilai, rendahnya performence dan minimnya pencitraan ….. masih melakukan pola lama koservativ Saya kira itu menjadi tanggungjawab politisi muda ?
    Mau dan mampukah melakukan perubahan ?
    Selamat berjuang semoga sukses !!!!!

Tinggalkan Balasan