Menerbangkan kunang-kunang generasi muda di taman akademos ; Sebuah upaya menata ulang grand design pendidikan Indonesia

Karya Peserta Lomba Tulisan Terbuka Anak Muda – Poempida

Menerbangkan kunang-kunang generasi muda di taman akademos ; Sebuah upaya menata ulang  grand design pendidikan Indonesia

”Seribu pahlawan bisa lahir dan mati dalam satu hari di negeri ini. Tetapi tak seorang pun ada yang peduli di tanah air kita ini. Dulu dalam kegelapan, seekor kunang-kunang pun bisa menjadi bintang. Sekarang bintang-bintang yang lahir malah dipadamkan”

(Pramoedya Ananta Toer)

Diawali oleh sebuah pertanyaan besar, mengapa negeri ini defisit orang-orang hebat? Dulu, negeri ini memiliki sastrawan sehebat Pramoedya Ananta Toer, W.S Rendra, atau Prof Sapardi Joko Damono. Olahragawan sehebat Rudi Hartono, Susi Susanti dan Alan Budikusuma. Atau seniman sehebat Basuki Abdullah. Namun semuanya seperti kisah masa lalu dan kita terhenti hanya sampai mengagumi para pendahulu bangsa ini. Kita seolah-olah ‘terjebak dalam hingar bingar masa lalu’ lalu larut didalam buaiannya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pendahulu bangsa ini, dengan segala kelebihan yang dimiliki bangsa ini kita semestinya bisa jauh lebih produktif dan menghasilkan karya dari putra-putri terbaik negeri. Tantangan ini harus bisa kita jawab secara jelas pada akar permasalahannya. Maka permasalahan yang terjadi berada pada ranah pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia tidak mencerdaskan paradigma berpikir peserta didiknya. Ia tidak melihat peserta didik sebagai individu yang unique yang tidak bisa disamakan dengan individu lainnya. Singkatnya, pendidikan di Indonesia harus ditata ulang dengan menciptakan grand design pendidikan Indonesia.

Fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini pada siswa adalah rasa cemas ketika bersekolah. Tuntutan pelajaran dan harapan orang tua merupakan dua faktor utama yang menyebabkan hal tersebut. Mengapa demikian? karena  tuntutan pelajaran menyebabkan para siswa tidak bisa menikmati proses pembelajaran di sekolah. Sehingga mereka melihat proses pembelajaran secara pragmatis; suatu tuntutan yang harus diselesaikan. Bukan mencintai ilmu pengetahuan as it self. Padahal sejatinya proses pembelajaran di sekolah merupakan sesuatu yang harus disenangi dan menyenangkan sehingga mampu memberikan enlightment pada paradigma berpikir dan bukan hanya membuat pintar siswa secara skolastik saja. Ditambah lagi harapan orang tua yang seringkali tidak memperhatikan karakteristik anak terkait minat dan bakat sehingga menggenapkan beban yang harus dipikul siswa sekolah. Mengkhawatirkan sekali melihat fenomena ini karena kecemasan yang diderita siswa bisa berhujung pada fobia yakni ketakutan irasional yang menimbulkan upaya menghindar (secara sadar) dari objek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. Keberadaan dan antisipasi terhadap hal yang ditakuti ini menimbulkan stres pada individu, karena dianggap sebagai hal yang berlebihan (Kaplan, Sadock & Grebb, 1994). Dan lebih spesifik lagi siswa dikhawatirkan akan mengalami school-phobia.

Seringkali seorang anak selalu saja memiliki banyak alasan kepada orang tuanya untuk tidak bersekolah, hal ini merupakan salah satu ciri dari school-phobia. School-phobia sendiri adalah suatu bentuk gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang ditandai dengan adanya rasa takut yang berlebihan saat anak diminta pergi/masuk sekolah, yang diawali dengan munculnya berbagai bentuk keluhan dan menghilang ketika masa “masuk sekolah” sudah lewat (hari Minggu dan hari libur)[1]. Lalu jika generasi muda sudah tidak lagi memiliki intensi untuk bersekolah, maka apa yang diharapkan dari negeri ini? Padahal pemuda adalah seperti kata Chairil Anwar, mereka sebagai splendor veritatis,orang yang mampu memberikan sumbangan yang relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia yang mendambakan gemerlap cahaya kebenaran. Maka kita harus meletakan generasi muda secara tepat dan mengembangkannya.

Fortiter in re

if you can dream it, you can do it” kalimat yang terlontar dari Walt Disney ketika membangun raksasa taman hiburan yang kini telah terkenal seantero dunia. Setiap penemuan yang memberi dampak besar bagi hajat hidup orang banyak selalu diawali oleh mimpi. Dan mimpi nyaris selalu diiringi oleh cemoohan dan penentangan dari khalayak ramai. Sebut saja Copernicus yang mengatakan bumi itu bulat dan menentang otoritas gereja ketika itu, namun sejarah membuktikan kebenarannya. Atau Wright bersaudara yang menentang hukum gravitasi dan kini telah kita rasakan bersama manfaat dari pesawat terbang. Dan yang teranyar adalah Martin Luther King dengan pidatonya yang terkenal I Have a Dream; pidato yang memperjuangkan hak kaum kulit hitam. Dan belum genap setengah abad namun kini orang kulit hitam sudah memimpin negeri Paman Sam itu, sebuah hal yang tidak terpikirkan pada saat pidato itu dibuat.

Apa bagian terbaik dari generasi muda? Idealisme! Yakni mimpi-mimpi besar yang dibalut oleh nilai keluhuran; hal yang tidak dimiliki generasi lainnya. Mimpi-mimpi itu yang mampu memberikan solusi konstruktif atas permasalahan bangsa. Maka dari itu kekuatan yang dimiliki generasi muda disebut dengan Fortiter in re; kekuatan keyakinan. Karena hanya dengan keberpihakan kepada nilai keluhuranlah negeri ini dapat terus maju berkembang.

Namun tanpa kita sadari seringkali kita memupuskan mimpi-mimpi besar generasi muda. Pendidikan formal tidak memberi ruang untuk mereka mengembangkan mimpi-mimpi besar mereka. Pendidikan formal melakukan fallacy definition, siswa yang pintar didefinisikan sebagai siswa yang pintar matematika, bahasa inggris dan ilmu alam. Sedangkan yang diluar dari itu jarang mendapat apresiasi. Misalnya saja ketika seorang anak yang mempunyai mimpi menjadi pemanin sepak-bola, besar kemungkinan tidak akan difasilitasi di sekolahnya. Atau bahkan orang tuanya akan melarang dengan alasan menjadi pemain sepak bola tidak memberikan jaminan masa depan. Pendidikan formal mengajarkan paradigma ‘apa yang saya dapatkan nanti’ bukan ‘apa yang dapat saya berikan’. Padahal setiap dari kita tentu sudah paham bahwa hanya kontribusilah bangsa ini dapat dibangun. Hal ini sekaligus dapat menjelaskan mengapa bangsa ini defisit orang-orang hebat. Karena pendidikan formal menafikan adanya  perbedaan individu.

Multiple intelegence as solution

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Keresahan yang sama juga dialami oleh seorang Psikolog dari Universitas Harvard yang bernama Howard Gardner. Maka pada tahun 1960 melalui bukunya Frame of Mind diluncurkanlah sebuah konsep kecerdasan majemuk (multiple intelegence) yang terus dikembangkan hingga saat ini. Multiple Intelegence melihat bahwa manusia memiliki beberapa kecerdasan. Setidaknya terdapat 8 kecerdasan yang dimiliki manusia yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis,kecerdasan spatial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal,kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalistik.

Sekolah kecerdasan majemuk

Sekolah kecerdasan majemuk didirikan tidak sekadar menyediakan kesempatan bagi siswanya untuk menerima beraneka ragam pelajaran sekolah. Tetapi juga ,didalam bukunya mengenai teori kecerdasan majemuk, Gardner (1993) merumuskan pandangannya tentang sekolah kecerdasan majemuk yang ideal. Secara khusus, Gardner menggunakan dua model non-sekolah ketika mengan­jurkan bagaimana seharusnya mendirikan sekolah kecerdasan majemuk. Pertama, Gardner melihat adanya bagian dari sekolah kecerdasan majemuk yang didasarkan pada museum anak-anak kontemporer. Menurut Gardner, lingkungan ini menyediakan tatanan belajar yang memungkinkan keterlibatan individu, kondisi yang interdisipliner dan didasarkan pada kehidupan yang nyata, serta ditata dalam suasana yang informal, sehingga mendorong kebebasan mencari tahu berbagai materi dan suasana yang baru. Kedua, Gardner melihat pada model magang, yaitu orang yang ahli dalam bidang tertentu mengawasi jalannya proyek yang dikerjakan oleh junior-juniornya.

Gardner menyarankan bahwa di sekolah kecerdasan majemuk, siswa dapat menerima mata pelajaran tradisional dengan cara yang non-tradisional pada pagi hari. Secara khusus, Gardner menganjurkan penggunaan pengajaran yang berpusat pada proyek. Siswa mempelajari secara mendalam suatu wilayah studi (konflik historis, prinsip ilmiah, gaya sastra) dan mengembangkan suatu proyek (essai, foto,eksperimen, jurnal) yang mencerminkan proses ber­langsungnya penerimaan informasi di berbagai dimensi topik. Siswa kemudian terjun ke masyarakat pada paruh kedua waktu sekolah dan mengembangkan lebih jauh pemahaman mereka tentang topik yang dipelajari di sekolah. Siswa yang lebih kecil, menurut Gardner dapat secara teratur mengunjungi museum anak-anak, museum seni atau sains, atau tempat-tempat lain yang mendorong proses pembelajaran dan permainan yang melibatkan eksplorasi mencipta perseorangan, serta melibatkan interaksi dengan pengajar dan pemandu ahli yang lain. Sedangkan siswa yang lebih senior dapat memilih kegiatan magang berdasarkan kecenderungan intelektual, minat, dan sumber daya yang tersedia. Kemudian, mereka dapat melanjutkan pelajaran siang hari dengan belajar bersama para ahli di bidang seni, keterampilan, kerajinan, olah raga, atau bidang-bidang kehidupan lainnya.

Hal yang mendasar dalam pandangan Gardner tentang sekolah kecerdasan majemuk adalah kegiatan tiga anggota kunci staf sekolah. Mereka menjalankan fungsi yang tidak dijumpai di kebanyakan sekolah dewasa ini. Menurut Gardner, setiap sekolah harus memiliki staf yang menjalankan peran-peran berikut:

Spesialis Penilaian. Anggota staf ini bertanggung jawab mengembangkan gambaran atau ’catatan’ yang berkesinambungan tentang kekuatan, keterbatasan, dan minat siswa dalam delapan aspek kecerdasan majemuk. Dengan menggunakan penilaian yang seimbang terhadap salah satu kecerdasan, staf ahli penilaian ini mendokumentasikan pengalaman belajar-mengajar siswa di sekolah dengan berbagai cara (melalui observasi, penilaian informal, dan dokumentasi multimedia), serta memberikan gambaran umum mengenai kecenderungan intelektual siswa kepada guru, orang tua, dan siswa yang bersangkutan.

Penghubung Antara Siswa dan Kurikulum. Staf ini berperan sebagai jembatan antara bakat dan kemampuan siswa dalam kedelapan kecerdasan dan ketersediaan sumber daya di sekolah yakni menjembatani antara siswa dan kurikulum, mencocokkan siswa dengan sejumlah mata pelajaran dan pilihan bebas tertentu, serta memberikan informasi kepada guru tentang cara mempresentasikan topik secara maksimal kepada siswa (misalnya melalui film, pengalaman yang melibatkan gerak tubuh, buku, dan musik).

Penghubung Antara Sekolah dan Masyarakat. Anggota staf ini menjadi penghubung kecenderungan intelektual siswa dengan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat luas yakni menjembatani antara sekolah dan masyarakat, serta harus memiliki informasi yang luas tentang jenis kerja magang, organisasi, mentoring, tutorial, program-program masyarakat, dan pengalaman belajar lain yang tersedia di lingkungan sekitar sekolah. Anggota staf ini kemudian berusaha mencocokkan minat, keterampilan, dan kemampuan siswa dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai di luar sekolah (misalnya mencari ahli biola untuk mengarahkan perkembangan minat bermain biola).

Sekolah Kecerdasan Majemuk Percontohan: Key Learning Community.

Upaya menciptakan sekolah kecerdasan majemuk telah berlangsung selama beberapa tahun. Ada satu sekolah yang secara khusus mendapatkan perhatian yakni Key Learning Community di Indianapolis, Indiana. Pada tahun 1984, sebuah kelompok yang terdiri dari delapan guru sekolah negeri Indianapolis menghubungi Howard Gardner untuk meminta bantuan dalam memulai sekolah baru di wilayah itu. Kemudian  Key School berdiri secara resmi pada September 1987. Sejak 1994, sekolah yang semula hanya setingkat sekolah dasar ini mengalami perluasan sehingga jangkauannya meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan berubah nama menjadi Key Learning Community.

Key Learning Community menggabungkan beberapa aspek pendidikan kecerdasan majemuk untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh, yang meliputi:

Pengajaran Sehari-hari Melalui Delapan Kecerdasan. Siswa sekolah menengah di Key Learning Community, di samping menerima mata pelajaran tradisional (matematika, ilmu alam, bahasa dan seni, sejarah, geografi, bahasa Jerman), juga menerima pelajaran pendidikan jasmani, seni, dan musik dalam porsi yang sama besar dengan mata pelajaran tradisional. Dibandingkan dengan sekolah nasional, siswa-siswi di Key Learning Community mendapatkan porsi pelajaran seni, musik, dan pendidikan jasmani dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan siswa Amerika pada umumnya. Setiap anak belajar memainkan satu alat musik, dimulai dengan biola sejak duduk di sekolah taman kanak-kanak.

Tema Berskala Sekolah. Setiap tahun, staf sekolah memilih dua tema, satu tema untuk satu semester, untuk memusatkan kegiatan kurikuler. Tema-tema yang sudah pernah dipilih oleh Key Learning Community adalah Persahabatan, Perilaku Binatang, Perubahan dalam Ruang dan Waktu, Marilah Kita Menciptakan Sesuatu—Fokus Lingkungan, Tradisi, dan Renaisans—Dahulu dan Sekarang. Selama proses pengembangan tema, seluruh sekolah terlihat mencerminkan proses belajar yang sedang berlangsung. Misalnya, tema lingkungan, beberapa bagian sekolah diubah menjadi hutan hujan tropis tiruan. Siswa dapat memilih dan mengembangkan proyek untuk setiap tema, yang kemudian akan mereka presentasikan di hadapan guru dan siswa lain dalam sesi khusus, dan direkam dengan video.

Kelompok Minat. Kelompok belajar khusus ini dipilih sendiri oleh siswa berdasarkan minat mereka. Kelompok minat dibentuk berdasarkan disiplin tertentu (berkebun, arsitektur, atau drama) atau studi kognitif tertentu (berpikir matematis, pemecahan masalah, dan ”pikiran dan gerakan”). Siswa bekerja sama dengan guru yang memiliki kemampuan khusus di wilayah yang dipilih, dalam kondisi yang serupa dengan kegiatan magang.yang menekankan penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kelompok arsitektur, misalnya, siswa ”mengadopsi” sembilan bangunan di sekitar sekolah dan mempelajari desain bangunan rumah-rumah tersebut melalui tur-keliling atau kegiatan lain.

”Ruang Mengalir”.  Siswa masuk ke dalam kelas ini beberapa kali dalam seminggu untuk mengikuti kegiatan yang dirancang dengan tujuan mengaktifkan kecerdasan mereka secara terbuka dan menyenangkan. ”Ruang mengalir” ini dilengkapi dengan permainan papan, teka-teki, program-program piranti lunak komputer, dan materi-materi pelajaran lain. Siswa dapat memilih sendiri kegiatan di ruangan tersebut. Guru membantu memfasilitasi kegiatan mereka dan mengamati bagaimana siswa berinteraksi dengan materi (masing-masing materi ditujukan pada aspek kecerdasan tertentu).

Komisi Sumber Daya Masyarakat. Kelompok ini, yang merupakan wakil-wakil dari kalangan pengusaha, seniman, organisasi budaya, pemerintah, dan kalangan akademisi di tingkatan yang lebih tinggi, menggabungkan program mingguan bagi keseluruhan populasi siswa yang didasarkan pada tema antarbidang studi.

Kelompok Usia-Campuran Heterogen. Siswa yang belajar di Key Learning Community dipilih secara acak dengan sistem undi. Sehingga siswa di satu kelas memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Faktor ini justru memperkaya program dengan keragamannya. Dan dapat terjadi pertukaran informasi antara siswa senior dan junior.

Kemudian sekolah kecerdasan majemuk harus ditunjang dengan pembentukan karakter bagi siswa didalamnya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui bagaimana sebuah karakter terbentuk.

Metakognisi sebagai solusi

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu bertanggung jawab terhadap dirinya. Mereka memiliki kewenangan penuh untuk menentukan arah hidupnya. Begitu pula dengan generasi muda. Meski mereka baru berada dalam separuh rentang kehidupan namun beban tanggung jawab sudah melekat dipundak mereka seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu sebuah mental pembelajar wajib untuk dimiliki. Karena sejatinya sebuah rentang kehidupan layaknya potongan puzzle dimana pengalaman, kesalahan, akan menjadi potongan-potongan yang harus direkatkan oleh sebuah pembelajaran sehingga dapat menjadi sebuah kehidupan yang utuh.

Lalu bagaimana agar mampu memiliki mental pembelajar? Kita dapat meminjam proses mental pembelajaran © Taufik bahaudin. Yakni berupa siklus yang berputar yang dimulai dari self-awareness àself-acceptance à self-improvement à dan kembali ke àself-awareness. Penjelasannya sebagai berikut, untuk mempunyai mental pembelajar setiap individu dari generasi muda harus pertama kali memiliki self-awareness yakni mereka harus mampu mengidentifikasi keadaan mereka baik berupa kekurangan maupun kelebihan. Bahkan keadaan psikologis mereka beserta kecenderungannya. Kemudian setelah mengetahuinya, mereka perlu memiliki self-acceptance yakni mengakui dan menerima bahwa hal tersebut bagian dari dirinya. Dan hal ini harus diinsyafi dengan sepenuhnya. Yang kemudian berlanjut kepada self-improvement yakni mengembangkan bagian dari diri yang berupa kelebihan dan membenahi kekurangan. Ketiga hal tersebut akan berputar terus dalam bentuk siklus. Sehingga mental pembelajar akan embodied didalam diri seseorang.

Kemudian terkait dengan karakter self-consciousness pada generasi muda maka individu sebagai generasi muda dapat mengontrol secara aktif pemikiran mereka melalui upaya metakognisi (thinking about thinking) yakni hal ini dilakukan sebagai ‘pengunci’ dari mental pembelajaran mereka. Didalam pelaksanaannya, bentuk  dari metakognisi dapat berupa self regulated learning yang intinya bagaimana kita meregulasi diri kita untuk mencapai tujuan tertentu. Self regulated learning (SLR) memiliki strategi sebagai berikut, pertama, self evaluating yakni kegiatan mengevaluasi diri sendri. Kedua, organizing dan transforming yakni inisiatif dari individu untuk mengatur kembali hasil dari evaluasi baik secara overt maupun covert. Ketiga, goal setting dan planning yakni usaha untuk menetap tujuan. Keempat, seeking information, yakni berperan secara aktif untuk mencari informasi berkaitan dengan tujuan yang telah tercipta. Kelima, keeping records and monitoring yakni mengumpulkan informasi didalam satu tempat. Keenam, self consequating memberikan pujian terhadap diri sendir. Namun tidak boleh berlebihan. Ketujuh, rehearsing and monitoring yakni melakukan upaya latihan terhadap hal-hal yang telah dirancangnya. Kedelapan, seeking social assitance yakni mencari bantuan dan dukungan sosial atas apa yang telah dilakukannya. Terakhir, reviewing record yakni inisiatif untuk melihat kembali apa yang telah dilakukannya. Misalnya sebagai berikut, seorang yang sedang melakukan self-awareness maka ia dapat menggunakan strategi SLR pertama hingga kedua. Kemudian berlanjut kepada pembentukan self-acceptance maka ia dapat menggunakan strategi SLR ketiga hingga kelima. Lalu terakhir pembentukan self-improvement maka ia dapat menggunakan strategi SLR keenam hingga ke sembilan. Dan hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi sebuah tingkah laku.

Demikian bentuk dari sekolah kecerdasan majemuk dan pembentukan karakter. Diharapkan melalui sekolah kecerdasan majemuk dan pembentukan karakter siswa dapat menemukan potensi terbaik dari dirinya dan mendapat dukungan dari iklim sekolah yang kondusif. Sehingga sebuah kegiatan belajar mengajar menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan, tidak memberatkan dan yang terpenting adalah memberikan pencerahan bagi paradigma berpikir siswa. Layaknya kunang-kunang, meskipun kecil namun dapat menjadi secercah cahaya di gelapnya malam, generasi muda yang tercerdaskan adalah kunang-kunang yang harus kita terbangkan pada gelapnya pendidikan Indonesia. Mereka akan menghantarkan kita menuju masa depan Indonesia ; sebuah taman dimana kunang-kunang tidak lagi menerangi sebagian tetapi layaknya bintang yang menerangi di gelap malam yakni taman akademos, taman pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Jati Nantiasa Ahmad

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

  • Pemenang juara 1 lomba essai hari anti narkoba yang diselenggarakan oleh harian ‘Media Indonesia’
  • Finalis terbaik ke 9 dari 20 finalis terbaik, dalam lomba essai nasionalisme yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Diikuti oleh 998 mahasiswa dari 207 perguruan tinggi  yang tersebar di 65 kota di Indonesia
  • Penulis blog kompasiana dan media elektronik

Mobile & email :

0856-2417-5544

jati_nantiasa@yahoo.com

Referensi

Fausiah, Fitri., dan Widury, Julianti. 2005. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Kaplan, H. I., & Sadock, B J. (1994). Synopsis of psychiatry : Behavioral sciences, clinical psychiatry. Baltimore, MD : William & William

Merrel, Kenneth W.; Elvin, Ruth A.; Gimpel, Grecthen A. 2006. School Psychology for the 21st Century. New York : The Guilford Press.

Santrock, John W. 2006. Educational Psychology. New York : McGraw Hill.

Schunk, D. H., Paul R. Pintrich, & Judith L. Meece. (2008). Motivation in Education: Theory, Research, and Application. New Jersey: Pearson Education, Inc.


[1] http://www.panic-anxiety.com/phobias/didaskaleinophobia

Share this

Tinggalkan Balasan