Nurpati Tak Pernah Ingkar Janji

Saya sebetulnya sangat kecewa dengan kejadian ini. Di mana sekali lagi seorang anggota KPU telah bergabung dengan suatu Partai Politik. Ini kali adalah giliran Andi Nurpati yang masuk ke Partai Demokrat. Ini memang merupakan hal politik dari saudari Andi Nurpati, yang telah di tunjuk sebagai salah satu Ketua di Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Tetapi di dalam konteks etika politik dan logikanya sangat tidak relevan. Ini kan ibarat seseorang yang pekerjaannya sebagai wasit kemudian alih profesi jadi pemain. Bukan pemain biasa saja, tetapi pemain andalan.

Nah kalau memang demikian, budaya Politik Nasional ke depan akan sangat suram. Karena semuanya akan berlomba untuk menjadi wasit daripada merintis melalui latihan yang sangat kompetitif dan panjang prosesnya. Selain daripada itu seharusnya kita mempunyai budaya yang menempatkan bahwa posisi para wasit ini adalah posisi terhormat yang memang ada di posisi yang mulia. Yang jelas di dalam praktek kehidupan nyata saya tidak pernah dengar ada cerita wasit beralih profesi menjadi pemain. Dalam kasus yang mirip lainnya, Hakim menjadi pengacara. Atau secara ekstrim, bandar atau pengawas kasino menjadi penjudinya.

Tanpa berprasangka buruk, tentunya jika Andi Nurpati memutuskan untuk bergabung dengan Partiai Demokrat, ada di dalamnya dirinya tertanam ambisi-ambisi politik yang dulunya mungkin pernah ada. Jika seseorang tidak mempunyai ambisi politik tentunya, hal atau kesempatan semacam ini pun tidak akan dihiraukan, apalagi menjadi pertimbangan.

Jika demikian adanya, apa yang sebenarnya terjadi di KPU selama ini? Apakah ambisi-ambisi terpendam semacam di atas dapat menciptakan suatu atmosfir yang obyektif di KPU? Memang hanya Andi Nurpati dan Tuhan yang tahu. Semoga saja Nurpati tak pernah ingkar janji, yaitu janji atau sumpahnya ketika dilantik menjadi anggota KPU.

Share this

Tinggalkan Balasan