Rapot Merah Menteri

Siapa yang mau dapat Nilai Rapot Merah? Rasanya tidak ada satupun orang yang suka atau mendambakan mendapatkan Rapot merah. Anak nakal dan malas sekalipun pasti tidak akan terima jika diberikan Rapot merah. Berbagai alasan pasti dia kemukakan agar tidak disalahkan orang tuanya. Termasuk diantaranya menyalahkan guru sebagai penilai.
Dalam rumusan umumnya jika seseorang mendapat rapot merah, maka dia tidak akan diijinkan naik peringkat, dan harus mengulang semua dan menyelesaikan segala pelajarannya.
Analogi di atas juga ternyata terjadi bagi para menteri KIB2, yang dapat rapot merah kok pada belingsatan. Bahkan ada yang menyalahkan sang pemberi nilai, UKP4. Sangat menyedihkan sekali melihat perilaku budaya kepemimpinan seperti ini.
Kalau anak murid yang mendapat nilai merah, tentu konsekuensinya tidak boleh naik kelas. Nah, jika seorang menteri yang mendapatkan rapot merah, apa konsekuensinya? Apakah akan diberi kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya atau diganti saja. Memang hal ini adalah hak prerogatif Presiden, dan semoga Pak SBY dapat secara bijak memutuskan secapatnya sikap atau kebijakan apa yang harus diambil.
Bangsa ini harus cepat bangkit, tidak ada waktu lagi untuk ragu-ragu dan menyerahkan pekerjaan kepada mereka-mereka yang tidak mampu. Masih banyak anak Bangsa yang mampu mengerjakan pekerjaan tersebut dengan lebih fokus, ikhlas, serius dan berdedikasi.
Oleh karena itu, sekedar TIPS bagi siapa saja yang ingin menjadi menteri dan tidak mau mendapatkan rapot merah, bekerjalah semaksimal mungkin untuk mencapai target-target yang sudah ditentukan oleh UKP4. Kalau secara realita tidak mungkin untuk dicapai target tersebut seyogyanya dibicarakan terlebih dahulu dengan UKP4 agar terjadi Reposisi. Kalau tidak mampu juga ya harus punya malu dong. Solusinya? Mengundurkan diri saja. Budaya mengundurkan diri itu bukan suatu hal yang tercela lho. Salam Budaya!

Oleh Dr. Poempida Hidayatulloh

Share this

Satu pemikiran pada “Rapot Merah Menteri

Tinggalkan Balasan