Sebuah dialog dengan Harian Kota

1. Bagaimana Anda melihat perkembangan demokrasi di Indonesia?

Demokrasi di Indonesia sudah terlampau liberal, tidak ada kekuatan independen yang dapat menjadi balance, agar terjadi suatu proses demokrasi yang adil dan bermartabat. Demokrasi di Indonesia pun masih sarat dengan Politik Uang dan tata pemilihan yang transaksional, sehingga kompetensi dan idealisme dikalahkan dengan permainan pemodal/investor politik. Inilah cikal bakal dari terciptanya budaya korupsi yang sangat mengakar dan sulit diberantas.

2. Menurut anda, apakah demokrasi yang kini sudah ada sesuai dengan cita-cita para founding fathers. Jika tidak, apa saran anda?

Tentu masih sangat jauh dari ideal, saya yakin founding fathers akan menitikan air mata jika melihat negara kita seperti ini. Hilangnya semangat juang, pudarnya semangat solidaritas, terlalu “powerfulnya” penguasa, rusaknya tata penerapan hukum, tersendatnya perekenomian riil dikarenakan terfokusnya pada stabilisasi ekonomi makro terutama sektor keuangan, dan lemahnya tingkat pendidikan, adalah gejala-gejala kemerosotan yang harus disadari semua pihak. Saran saya, harus segera terjadi pembenahan struktur politik yang memacu pemerintah untuk cepat berbuat dan menyelesaikan ribuan persoalan yang ada dan senantiasa akan selalu muncul kapan saja. Semangat untuk saling mendukung dan saling membangun harus digalakan agar ego golongan dan kelompok elit tidak mewarnai budaya politik seperti yang kita lihat saat ini.

3. Sebagai politisi dari Golkar bagaimana anda melihat peran Golkar dalam kancah politik nasional?

Golkar sepanjang sejarah Indonesia telah menunjukan peran yang sangat siginifikan dalam perjalanan Bangsa ini. Golkar adalah partai yang telah mengalami evolusi dng baik, sehingga keberadaannya tidak pernah dapat diingkari dalam kancah politik nasional maupun daerah. Namun demikian Golkar hanyalah suatu kendaraan politik, dan peran Golkar dalam kancah politik Indonesia dapat berbeda-beda warnanya tergantung dari pucuk pimpinan Partai ini.

4. Apa garis perjuangan Golkar sejalan dengan Anda?

Secara Ideologi dan semangat perjuangan, saya memang sangat menjiwai dan menjujung tinggi apa yang diperjuangkan Golkar, oleh karena itu saya sudah 16 tahun menjadi kader Partai Golkar, dan tidak akan berpindah ke Partai lain. Namun dalam skala politik praktis, tentu tergantung kebijakan yang diambil oleh elit Partai, ada kalanya saya berbeda, ada kalanya saya bisa terima, namun keputusan kolektif yang demokratis melalui sistem pengambilan keputusan internal partai harus dihormati oleh semua kader Partai.

5. Bagaimana anda melihat parlemen jalanan. Sejauh mana keefektifan mereka dalam melakukan tekanan terhadap kebijakan pemerintah?

Jika struktur Politik seperti ini, maka parlemen jalanan tidak akan pernah efektif, kecuali terjadi gerakan masif yang memobilisasi kepesertaan Masyarakat secara langsung. Karena secara konstitusi, struktur politik Indonesia sangat melindungi keberadaan penguasa, sehingga sulit dijatuhkan, kecuali melalui cara yang konstitusional, dan ini sarat dengan kompromi elit politik.

6. Bagaimana anda melihat pergerakan kaum muda dalam ikut menentukan arah demokrasi di Indonesia?

Gerakan pemuda akan efektif dan sangat berarti jika didasarkan suatu semangat juang dan idealisme yang benar. Jika masih terkontaminasi oleh permainan politik praktis yang transaksional tidak akan memberikan suatu makna apa pun.

7. Bagaimana kebijakan penguasa saat ini? Apa kelebihan dan kekurangannya?

Kebijakan penguasa masih belum terlihat keberpihakannya secara riil untuk kepentingan rakyat. Masih diwarnai oleh politik pencitraan yang berlebihan. Padahal pemerintahan secara politik mendapat dukungan mayoritas mutlak di parlemen. Tidak ada alasan untuk tercipta suatu pemerintahan yang kuat dan mumpuni untuk membangun Bangsa dan Negara.

8.Apakah anda punya saran, kritik atau solusi terhadap perkembangan demokrasi di Indonesia?

Demokrasi harus dibangun berlandaskan semangat membangun Bangsa bukan untuk mencari kekuasaan. Ini harus disadari oleh seluruh elemen Bangsa, bukan saja kader partai politik, tetapi juga masyarakat sebagai pemilih.

Pertanyaan Lain-lain:

1.Siapa yang pertama mengajari atau mengapa anda tertarik dengan politik mengingat back ground pendidikan anda bukan sospol?

Saya adalah pengagum Bung Karno dari sejak kecil, Beliau yang memberikan inspirasi kepada saya. Namun karakter politik saya, banyak diwarnai oleh nilai-nilai yang diajarkan oleh mertua saya, Fahmi Idris. Selain itu saya banyak menimba pengalaman dari Pak Jusuf Kalla.

2. Apa hal yang paling sering dikerjakan dan apa yang tidak?

Saya senang membaca, mengkaji, mengamati dan menulis. Untuk hal-hal yang aplikatif saya terapkan apa yang saya pelajari dalam perjalanan hidup saya.

3. Bagaimana anda mengisi waktu kosong?

Bersama Isteri dan anak-anak tentunya. Tapi saya senang sekali memacu adrenalin dengan balapan. Sampai saat ini sejak 1990 saya fans berat Formula One.

4. Apakah anda suka nonton film atau mendengarkan musik? boleh tahu jenisnya.

Film yang saya suka: comedy, sci-fi dan action pack. Musik saya tdk hanya mendengarkan saja, tapi “composing” dan bermain dengan anak-anak saya, ruang lingkupnya masih di sekitar Pop, Rock dan kadang-kadang heavy metal.

Oleh Dr. Poempida Hidayatulloh

Share this

Tinggalkan Balasan