11 tahun menjadi PhD

Tidak terasa sudah 11 tahun saya sudah menjadi seorang “Doctor of Philosophy. Desember tahun 1999 yang silam adalah saat penentuan ujian pertanggungjawaban Thesis hasil penelitian saya yang berjudul “Multi-resolution Modelling for Human Body Parts”.

Jika dicari di amazon.com Thesis tersebut sudah di publish dan dapat dibaca.

Dengan pendekatan “lifting scheme” dari metode “multi-resolution analysis” setiap deret data dalam bentuk “single atau multi-dimensional” dapat dipisahkan antara “trend data” dengan “wavelets”-nya.

Dengan metode media storage seperti ini, suatu model data dapat ditampilkan dan dimanipulasi dalam level resolusi yang berbeda-beda. Sehingga efek dari manipulasi dapat dillakukan untuk menimbulkan pengaruh yang sifatnya lokal atau pun global, tergantung dari level detail resolusi yang dimanipulasi.

Keuntungannya mempunyai model seperti ini dapat dimanfaatkan untuk 3D modelling dalam konteks manipulasi Bio-Mechanic Engineering yang terkenal sangat kompleks. Juga dalam konteks animasi 3 dimensi pun teknik modelling seperti ini dapat sangat bermanfaat untuk mempercepat proses render. Aplikasi teknik ini pun dapat digunakan untuk mengekstrak “signature” data “image” 2 dimensi untuk keperluan “image recognition”.

Bagi saya, achievement menjadi seorang PhD adalah suatu hal yang luar Biasa. Memacu diri saya untuk selalu mengasah daya analisa setajam-tajamnya, tidak hanya di bidang yang digeluti, tapi hampir di segala bidang. Ekspetasi hampir semua orang terhadap seorang PhD tentunya lain, kita dituntut untuk dapat berpikir, menganalisa, membuat hipotesa, dan memecahkan masalah di atas rata-rata. Oleh karena itu, membaca sudah harus menjadi bagian dari hidup seorang PhD.

Banyak manfaat yang dapat dimanfaatkan dengan mempunyai kemampuan analisa dan “problem solving” yang baik. Tentunya sebagai seorang pengusaha sekarang saya pun dapat memetik buah dari hasil menjadi seorang PhD. Banyak berbagai kendala yang dihadapi dalam berusaha dapat terselesaikan dengan suatu perumusan pendekatan yang akurat. Tentunya semua tidak terlepas dari kerja keras dan doa. Namun sebagai seorang PhD, kerja keras, kemauan yang kuat dan kreatifitas yang terlatih, sangat membantu mengidentifikasi masalah dengan baik dan benar, sehingga jawaban atau solusi dari masalah tadi dapat dirumuskan formulanya.

Begitu pula posisi saya sebagai politisi, menjadi seorang PhD, banyak membantu dalam memformulasikan strategi dan pendekatan secara empiris terutama dalam menganalisa kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada. Sehingga memudahkan untuk memberikan kritik dan masukan bagi pemerintah dalam membangun Republik Indonesia yang tercinta ini.

Demikianlah cerita tentang potongan dari pengalaman hidup saya. Semoga dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Viva ilmu pengetahuan!

Oleh Dr. Poempida Hidayatulloh

Share this

Satu pemikiran pada “11 tahun menjadi PhD

Tinggalkan Balasan