Kembali Ke Ideologi

lambang-garuda

Oleh Dr. Poempida Hidayatulloh

              Kebebasan, keterbukaan dan demokrasi telah membuka jalur-jalur baru dalam melaksanakan pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Dalam perjalanannya ketiga faktor tersebut menjadi sebab utama ditinggalkannya basis-basis ideologi kebangsaan. Walaupun ketiganya telah memberikan warna kehidupan baru yang dinikmati oleh rakyat Indonesia.

             Sebagian politisi dan pengusaha di Indonesia selalu mengangkat wacana bahwa ideologi tidak dapat dijual lagi dalam konteks membangun. Namun, konsep program yang tepat dalam membangunlah yang layak untuk dijual. Dan inilah yang terjadi dan kita semua saksikan setiap saat ramainya politisi dan calon-calon kepala daerah menawarkan berbagai konsep program untuk mendapat dukungan dari masyarakat demi keterpilihannya. Di lain pihak, masyarakat, dengan segala keterbatasan dalam pengetahuan, pemahaman, dan pendidikannya tidak dapat mencerna konsep-konsep program tersebut dengan baik. Sehingga yang terjadi adalah banyaknya miskonsepsi dari implementasi program politisi atau kepala daerah terpilih. Tidak hanya itu saja, ada pun program yang baik dan dapat terimplimentasikan dengan baik akan bersifat jangka pendek lima tahunan. Situasi seperti ini jelas menimbulkan ketidakberlanjutan (sustainabilitas) pembangunan yang seyogianya menyentuh kesejahteraan rakyat yang hakiki. Suatu basis kesejahteraan rakyat yang temporer tidak pernah akan menciptakan basis keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kesuksesan Tiongkok dalam membangun negaranya tetap saja terfokus pada kepentingan Bangsa Tiongkok untuk kepentingan mereka dalam waktu yang sangat panjang. Keterbukaan secara ekonomi Tiongkok tidak juga membuat basis ideologi negaranya dilupakan oleh para pemimpinnya. Bahkan mereka selalu berusaha menjadikan basis keterbukaan sebagai cara baru untuk mempertahankan ideologi yang dibangun oleh para pendiri negara itu yang mereka percaya akan membawa Bangsa dan Negaranya menjadi besar dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Suka atau tidak suka Tiongkok secara berkelanjutan terus mempertahankan dan melakukan ekspansi nilai-nilai ideologi negara tersebut.

Kedaulatan suatu negara semakin menjadi sesuatu yang tidak signifikan secara perlahan dengan derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai yang selalu disebut dengan nilai-nilai universal terus masuk ke segala penjuru dunia mengubah berbagai persepsi domestik yang ada hampir di setiap negara. Resistensi dari masuk dan merebaknya nilai-nilai itu timbul baik dalam bentuk suatu diskursus pemikiran/opini sampai pada gerakan pemberontakan yang ekstrim tergantung dari situasi politik nasional masing-masing negara. Hal ini menempatkan posisi kedaulatan (sovereignty) suatu negara pada posisi yang lebih rendah dari kebanggaan (dignity) suatu Bangsa. Ideologi jelas menjadi faktor yang sangat menentukan pada kedua isu berkaitan dengan kedaulatan dan kebanggaan suatu bangsa. Dengan demikian pertahanan terakhir dari kedaulatan adalah kebanggaan tadi. Tanpa suatu kebanggaan, basis kedaulatan akan perlahan hilang. Begitu pun sebaliknya dengan kebanggaan, basis suatu kedaulatan akan terproteksi secara natural.

Kebanggaan suatu Bangsa tidak datang dengan sendirinya. Hal ini harus tercipta melalui suatu proses perjuangan konsepsi yang tepat dan implementatif. Konsepsi tersebutlah yang sering kita kenal sebagai Ideologi. Bangsa Indonesia boleh berbangga karena berhasil merebut kemerdekaan dari para penjajah. Kemerdekaan itu didapat melalui suatu sejarah perjuangan yang sangat panjang. Produk pertama dari kemerdekaan kita itu adalah Ideologi. Ideologi inilah yang mengawal perjalanan Republik Indonesia dan mengalami masa jatuh bangun. Ideologi ini yang sebenarnya sudah terbukti menjadi jati diri Bangsa Indonesia dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian, Ideologi ini selalu berpotensi untuk ditinggalkan dengan terlihatnya adaptasi nilai dan norma lain yang dianggap lebih baik.

“Believe” dalam hal ideologi ini memang perlu di reposisi di segenap kalbu anak-anak Bangsa. “Believe” inilah awal dari segala pemikiran positif dan optimis yang melahirkan suatu kebangaan. Bangga menjadi Bangsa Indonesia harus dapat dikonversi menjadi suatu pemahaman dan pengamalan ideologi ini demi tercapainya cita-cita Kemerdekaan RI.  Bangga akan NKRI memupuk rasa cinta terhadap Republik yang menjadi resep untuk prestasi anak-anak Bangsa.

Insya Allah, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati NKRI yang tercinta ini. Bagi yang tidak tahu apa yang disebut ideologi dalam tulisan ini, itu adalah Pancasila.

Share this

Tinggalkan Balasan