Distorsi Makna “Petarung”

Distorsi Makna “Petarung”
Oleh Dr. Poempida Hidayatulloh

Belakangan ini ada kalangan yang menggunakan kata “Petarung” bahkan ditambah lagi dengan tambahan “asli” di belakangnya menjadi “Petarung Asli” yang ditujukan untuk suatu tindakan mundur dari jabatan yang merupakan amanah dan sumpah jabatan dan kemudian maju untuk mengejar jabatan yang lebih tinggi.
Dalam konteks tersebut memang ada nilai berani di dalamnya. Namun penulis merasa terganggu dengan penggunaan kata “petarung” tersebut. Jangan nanti diartikan seseorang yang amanah menjalankan suatu jabatan sampai selesai dinilai bukan petarung.
Seringkali kita semua terjebak dalam memberikan predikat kepada seseorang dikarenakan efek “wow” yang muncul dari perilakunya.
Namun kita semua sering lupa bahwa mengambil suatu peluang tanpa suatu proses yang tuntas itu merupakan suatu taruhan. Penulis menilai orang dengan perilaku seperti itu lebih cocok disebut dengan “Petaruh”.
Memang negara ini kurang mengapresiasi para petarung yang berproses dan tidak memilih jalan-jalan pintas (shortcuts). Sehingga banyak sekali orang-orang senantiasa mencari shortcuts untuk mencapai tujuan tertentu. Ingin bagus nilai, nyontek. Ingin kaya, korupsi. Ingin cantik, operasi. Ingin dapat SIM, nembak. Dan seterusnya.
Padahal kesuksesan yang hakiki berbasis pada “endurance” (ketahanan) seseorang untuk terus bekerja mencapai apa yang dicita-citakan. Thomas Alpha Edison, melakukan 2000an eksperimen sampai dapat menemukan lampu listrik. Nelson Mandela berjuang dan dipenjara bertahun-tahun sampai pada akhirnya berkuasa. Dan masih banyak lagi cerita tokoh dunia yang layak disebut sebagai “Petarung”.
Seorang Petarung akan memancarkan aura bahwa keberanian, upaya yang keras dan sikap tidak menyerah kepada kita semua.
Sedangkan seorang “Petaruh” akan memancarkan aura keberanian dan keberuntungan.
Sisi negatif dalam hal ini adalah memberikan ilusi bahwa keberuntungan itu selalu ada. Padahal tidak semua orang mempunyai nasib beruntung.
Apa yang penulis sampaikan kali ini tidak bermaksud untuk membuat polemik, sekedar meluruskan suatu tata bahasa yang kini kerap dipakai untuk men-“justify” sesuatu yang tidak sesuai.
Semoga bermanfaat.

Share this

Tinggalkan Balasan