Daulat Rakyat Atau Daulat Wakilnya?

Allahu Akbar, Luar biasa pendidikan politik yang didapat rakyat NKRI dari berbagai sumber contoh-contoh mulai dari para politisi, ulama, penguasa selama Pileg sampai Pilpres 2014. Indonesia memang hebat.

Terakhir ada seruan ancaman boikot Pelantikan Presiden-Wapres, saat proses MK masih berlangsung. Apakah yang bersuara sedikit lupa bahwa NKRI tercinta menganut sistem republik dengan asas kepemimpinan bersendi “Daulat Rakyat” ? Rakyat Indonesia harus kita selamatkan!

Majulah wahai semua pihak dari semua kalangan, selamatkan NKRI tercinta! Kita tunjukkan dan berikan pendidikan politik dan ber-Negara terbaik kepada rakyat Indonesia dengan semua disiplin keilmuan yang luas bahwa kita mampu menunjukkan kedewasaan sikap, toleransi, dan  objektivitas yang tinggi. Bahwa kita ikuti dan taat semua proses konstitusi yang sedang berlangsung sampai keluar hasil akhir.

Tetap mendudukkan pendapat untuk tidak memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Kita wajib ingatkan diri kita semua tentang prinsip relativitas pengetahuan manusia. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan YME.

Salam Revolusi Mental

Poempida Hidayatulloh

Share this

Prabowo-Hatta Mundur? Pidana!

Saya sedikit kaget dengan sikap seperti ini dari Prabowo-Hatta, karena mundurnya Prabowo Hatta dari pencalonan akan terkena Sanksi Pidana Pasal 246 sesuai dengan UU no 42 th 2008 tentang Pilpres. Apakah memang Beliau tidak tahu atau tidak diinformasikan dengan baik? Seyogianya jika seseorang percaya pada proses Demokrasi, harus juga percaya pada proses hukum. Jika memang terindikasi ada masalah dan kecurangan silakan dapat diproses secara hukum sesuai dengan jenis dan kategori pelanggarannya. Itulah jalan keluarnya.

Salam Revolusi Mental
Poempida Hidayatulloh

Share this

Oh Minangkabau

Oh Minangkabau

Sedih rasanya jika melihat hasil perolehan pilpres 2014 di Sumatera Barat. Daerah yang seharusnya mempertimbangkan prestasi, kontribusi dan keberadaan seorang Sumando, bernama Jusuf Kalla (JK).
Bagi mereka yang belum kenal Pak JK, Beliau itu adalah Suami dari Ibu Mufidah yang asli orang Lintau, Tanah Datar. Rumah gadang Keluarga Ibu JK ini bisa dilihat di Lintau. Bahkan Putra Pak JK, Solihin J Kalla itu seorang Datuk di sana. Belum lagi Pak JK itu berbesan dengan Keluarga Bapak Arifin C Noor, orang Solok.
Mengapa kemudian Jokowi JK kalah telak di Sumater Barat? Padahal Saya sebagai Wakil Rakyat Sumatera Barat, selalu ingat perhatian Pak JK saat menjadi Wapres RI 2004-2009, pada Pembangunan Sumatera Barat. Tidak hanya itu, ketika Gempa melanda Sumbar pun, tidak sedikit penggalangan bantuan yang dikirim oleh Pak JK secara pribadi atau pun juga melalui jaringan Palang Merah Indonesia.
Namun, saya paham, sudah terlalu lama saya berkemcimpung dalam politik sehingga memang kontribusi yang tulus dan baik tidak serta merta proporsional dengan perolehan dukungan suara.
Saya sangat memahami bahwa Pak Jokowi dan Pak JK adalah 2 negarawan terbaik yang dimiliki Bangsa Indonesia.
Insya Allah, Sumatera Barat tetap akan menjadi perhatian Beliau Berdua dalam Pembangunan Nasional ke depan.
Saya akan menjaga hal itu agar tetap Sumatera Barat mendapatkan perhatian penuh. Sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab kepada masyarakat Mingkabau.

Salam Revolusi Mental
Poempida Hidayatulloh

Share this

Koalisi Permanen Yang Temporer

Mendengar akan adanya deklarasi Koalisi Permanen sungguh menambah keyakinan saya bahwa Koalisi Pendukung Prabowo-Hatta sudah melupakan hasil Pilpres 2014 dan dalam proses untuk mengamankan basis posisi politik lainnya. Tentu ini terutama di Parlemen yang akan sangat diuntungkan oleh UU MD3 yang baru.
Namun secara pribadi saya menilai konsep Koalisi Permanen yang akan dibangun tidak mempunyai kekuatan hukum apa pun, karena hanya akan berbasis kesepakatan kumpulan perdata dari masing-masing elit partai yang bergabung di dalamnya.
Dengan kata lain keberadaan suatu partai dalam koalisi tersebut hanya akan tergantung dengan persepsi dukungan politik elit-elit yang berkuasa di Partai itu.
Di mana kita semua tahu akan terjadi perubahan dalam kepengurusan Partai dalam waktu dekat ini dan semua Partai yang menyatakan Koalisi Permanen ini kemungkinan akan dipimpin oleh faksi elit yang lain, kecuali Gerindra. (Saya belum tahu apakah Demokrat akan ikut deklarasi atau tidak).
Sehingga basis Koalisi Permanen ini sungguh sesuatu yang temporer. Berpotensi tinggi untuk bubar di tengah jalan.
Jika ingin membuat suatu Koalisi yang benar-benar permanen, harus daam bentuk konfederasi Partai, yag kemudian didaftarkan di Kemdagri dan KPU. Jika demikian hilang sudah identitas Partai2 koalisi di dalamnya. Hanya ada 1 kepengurusan dalam bentuk Konfederasi.
Tapi saya yakin, pendekatan seperti ini bukan yang akan dilakukan dalam konteks deklarasi Koalisi Permanen hari ini.
Deklarasi ini Koalisi Permanen ini pada ujungnya hanya ditujukan untuk mengamankan posisi-posisi politik jangka pendek dan merupakan kepentingan sesaat saja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Koalisi Permanen ini sifatnya temporer saja.

Salam Revolusi Mental
Poempida Hidayatulloh

Share this

Golkar dan Quick Count

Bagi orang yang teredukasi.dan mempunyai pengalaman politik yang cukup, secara rasional akan cepat membaca ke arah mana kemenangan akan menuju. Referensi yang digunakan secara cerdas adalah basis Quick Count Pilpres 2014. Tentu koherensi hasil quick count jelas memenangkan Jokowi JK.
Inilah yang kemudian dibaca oleh seluruh kader Golkar di daerah yang secara serentak mulai menunjukkan dukungan walaupun secara tidak terbuka kepada Jokowi JK.
Pada dasarnya, mereka yang menyatakan dukungan ini memang sudah memilih Jokowi JK, pada saat Pilpres kemarin. Tapi tidak berani secara terbuka diakibatkan oleh satu dan lain hal sebagai pertimbangan.
Saya hanya mengimbau agar seluruh kader Golkar Pendukung Jokowi-JK agar tidak ragu-ragu lagi untuk muncul ke permukaan dan unjuk gigi, kita bersama amankan rekapitulasi suara.
Sudah saatnya Golkar kita kembali berkarya bersama Jokowi JK.
Hiduplah Golongan Karya, Semoga Tuhan Selalu Melindunginya.

Salam Revolusi Mental,
Poempida Hidayatulloh

Share this

Awas Bahaya Fasisme!

Entah suatu pertanda dari Tuhan, atau bagaimana, Video Clip yang mengusung Pasangan Capre-Cawapres Prabowo-Hatta karya Ahmad Dhani, tersandung dengan isu copyright dan Baju NAZI yang dipakai oleh Ahmad Dhani dalam Video Clip tersebut.

Saya hanya ingin berkilas balik saja pada tokoh NAZI, Adolf Hitler, seseorang yang mendapatkan kekuasaan penuh di Jerman melalui suatu proses demokrasi. Bagaimana cara Hitler mendapatkan kekuasaan melalui proses demokrasi saat itu, berikut ini adalah yang Ia kerjakan:
“All propaganda has to be popular and has to accommodate itself to the comprehension of the least intelligent of those whom it seeks to reach.” (Segala propaganda harus populer dan dapat mengakomodasi pengertian dari yang paling tidak cerdas dari semuanya yang mencari tahu.)
Adolf Hitler.
“Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it.” (Ciptakan kebohongan secara besar, sederhana, terus menerus dikatakan, dan pada saatnya mereka akan mempercayainya.)
Adolf Hitler.
“It is not truth that matters, but victory.” (Bukan kebenaran yang penting, tapi kemenangan)
Adolf Hitler.
Itulah tips seorang Hitler dalam mencapai kekuasaannya yang absolut dan bertanggung jawab atas kematian jutaan orang ditangannya. Sehingga seorang inspirator sekelas Martin Luther King harus mengingatkan kita semua sebagai berikut:
“Never forget that everything Hitler did in Germany was legal.” (Jangan pernah lupa bahwa semua yang dikerjakan Hitler di Jerman adalah legal.)
Martin Luther King.

Seluruh Rakyat Indonesia jelas harus dapat diingatkan dan dibukakan matanya bahwa melalui suatu proses demokrasi pun dapat tercipta seorang diktator seperti Adolf Hitler dengan kekuasaan absolut sebagai “Der Fuhrer”.

Salam Revolusi Mental
Poempida Hidayatulloh

Share this

Jokowi JK Adalah Kita

##Jokowi dan JK adalah kita….

Pada acara Debat KPU terakhir ini setiap jiwa pasti sudah opininya masing-masing. Tanpa perlu mengulas ulang jalannya keseruan acara tersebut dan karena ini sudah memasuki “Minggu Tenang”, maka saya hanya mau menenangkan seluruh rakyat Indonesia bahwa: “Sepasang Pemimpin yang merdeka, berakal dan beragama sudah memasukkan kita semua, rakyat Indonesia dalam doanya. Sepasang Pemimpin yang -Tercerahkan-, sepasang manusia yang sudah tahu persis tentang makna hidup dan tugas hidupnya. Sehingga ia akan bisa mencerahkan orang lain”.

Sepasang Pemimpin ini merupakan kebahagiaan bagi siapa pun yang mengenalnya. Mereka menjadi setitik harapan bagi Indonesia untuk memiliki sepasang Pemimpin panutan yang dapat membawa Indonesia menjadi negara yang kuat, sejahtera, adil, dan makmur. Diantara banyaknya kekecewaan kepada para Pemimpin sebelumnya, yang salah arah, salah tingkah dan tidak jarang akhirnya ditinggalkan rakyatnya.

Memang, tidak ada manusia yang 100% sempurna alias 100% hidupnya tanpa cela. Tapi, sebenarnya, justru dari ketidaksempurnaan Sepasang Pemimpin inilah, kita bisa “berkaca”, bahwa mereka manusia seperti kita, mereka juga rakyat Indonesia, yang akan selalu mampu menjadi “Manusia Pembelajar” yang dapat membawa Perubahan menuju Kebaikan.

Bagi saya, Jokowi dan JK sangat mampu menumbuhkan kebahagiaan untuk setiap rakyat Indonesia untuk dapat hidup dan berkehidupan lebih baik dalam satu kesatuan NKRI yang lebih Sejahtera.

Jokowi dan JK adalah kita……

Salam 2 Jari
Poempida Hidayatulloh

Share this

Obor Rakyat Itu Kejahatan Demokrasi Luar Biasa

Saya mengapresiasi kinerja Polri yang cukup responsif dalam menangani kasus tabloid obor rakyat ini. Saya berharap kasus ini pun secepatnya dapat dibongkar sampai ke akarnya, yaitu dengan ditangkapnya aktor intelektual dan juga pendana dibelakang tabloid obor rakyatnya.
Obor Rakyat bukan sekedar masalah jurnalisme dan pidana umum saja, tapi Obor Rakyat adalah “kejahatan demokrasi” yang luar biasa. Dalam berevolusi untuk menjadi negara yang beradab, berwibawa dan bermartabat, penegakan hukum dalam menciptakan demokrasi yang berintegritas, jujur dan adil harus dikuatkan.
Pemimpin yang lahir dari proses demokrasi yang bersih akan menjadi Pemimpin yang juga bersih dan bertanggung jawab. Tapi apabila prosesnya ternoda, maka Indonesia akan sulit mendapatkan pemimpin yang didambakan oleh rakyat.

Salam Revolusi Mental
Poempida Hidayatulloh

Share this

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas