Hydrocoil Turbine Performance at 3 m, 4 m, and 5 m Head Analysis Using Computational Fluid Dynamics Method

image


Hydrocoil Turbine Performance at 3 m, 4 m, and 5 m Head Analysis Using Computational Fluid Dynamics Method

Alief Avicenna Luthfie,
Swandya Eka Pratiwi,
Poempida Hidayatulloh
Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Mercu Buana, 11650 Jakarta, Indonesia

e-mail: alief.avicenna@mercubuana.ac.id; swandya20@yahoo.com; poempida@gmail.com 

Abstract.
Indonesia is a country rich in renewable energy resources, such as water, solar, geothermal, wind, bioenergy, and ocean energy. Utilization of water energy through MHP is widely applied in remote areas in Indonesia. This utilization requires a water-converting device known as a water turbine. Rosefsky (2010) developed a water turbine known as the Hydrocoil turbine. This turbine is an axial turbine which is a modification of a threaded turbine. This turbine has a pitch length that decreases in the direction of the water flow and is able to work at relatively low water flow and head. The use of Hydrocoil turbine has not been widely applied in Indonesia, therefore this research is focused on analyzing the performance of Hydrocoil turbines. The analysis was performed using Computational Fluid Dynamics (CFD) method. Hydrocoil turbine performance analysis was performed at 3 m, 4 m, and 5 m head respectively as well as rotation speed variations of 100 rpm, 300 rpm, 500 rpm, 700 rpm, 900 rpm, 1,100 rpm, 1,300 rpm, 1,500 rpm, 1,700 rpm, and 1,900 rpm. Based on simulation results, the largest power produced by the turbine at 3 m head is 1,134.06 W, while at 4 m and 5 m are 1,722.39 W and 2,231.49 W respectively. It is also found that the largest turbine efficiency at 3 m head is 93.22% while at 4 m and 5 m head are 94.6% and 89.88% respectively. The result also shows that the larger the head the operational rotational speed range will also be greater.

Share this

Gunakan BPJS!!!!

image

image

Gunakan BPJS setiap hari, InsyaALLAH  kesehatan kita terutama yg sudah manula akan terjaga !!!
B = Berolahraga secara rutin.
P = Perbanyak ibadah, sedekah dan silaturahmi.
J = Jaga makan, jaga ucapan dan jaga hati,
S = Selalu bersyukur atas rezeki yg ada.

Share this

Lelang Aset BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Jateng DIY

image

image

image

image

image

image

image

image

Lelang Aset BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Jateng DIY, Cabang Semarang Pemuda, Cabang Semarang Majapahit, Cabang Kudus, Cabang Ungaran, dan Cabang Magelang. Selamat! Sukses! #bpjsketenagakerjaan #bpjstk @bpjs.ketenagakerjaan @bpjstkinfo #dewas #poempida #semarang #kpknl #work #experience #motivation

Share this

Menanggapi Masalah Seputar Dwi Hartanto

Komentar saya tentang masalah Dwi Hartanto ….:
Banyak scientist di Indonesia tidak dihargai …. Hasil riset dan penelitiannya juga luar biasa…. Hanya saja ybs tidak pernah mendapatkan penghargaan apa pun.
Sekedar mengingatkan saja. Penguasaan teknologi itu bukan berbasis penghargaan. Berapa banyak anak-anak muda kita yang menang Olimpiade Matematika, Fisika dll? Tapi berapa banyak sih teknologi yang dihasilkan dari hasil Olimpiade itu? Jawabannya mungkin ada mungkin tidak. Kita tidak pernah tahu apa seterusnya dilakukan anak-anak pemenang Olimpiade itu.
Teknologi bukan gebrakan, tapi menggebrak. Teknologi bukan kejutan, tapi mengejutkan. Teknologi bukan pameran tapi terapan.
Poinnya adalah Bangsa kita senang sesuatu yang wah tentang suatu keberhasilan. Tapi tidak pernah mengangkat perjuangan di belakang nya. Berapa banyak darah, keringat dan upaya yang harus dicurahkan untuk meraihnya. Sehingga jika ada seorang yang membual tentang sesuatu yang hebat kita semua mudah takjub.
Perkaya kita dengan pengetahuan sebanyak mungkin. Insya Allah kita tidak akan terjebak kepada masalah2 seperti ini …. PHD

Share this

Dilematika Pengawasan Di Indonesia

Oleh: Dr. Poempida Hidayatulloh Djatiutomo

Semua orang yang memperhatikan kehidupan kekuasaan di Indonesia rasanya selalu heran kenapa korupsi terus saja menjamur, atau ada program yang baik tapi implementasinya buruk, atau sering terjadi penyalahgunaan yang berlebihan.

Analisa yang dapat berkenaan dengan hal tersebut di atas adalah pertama dikarenakan minimnya pemahaman tentang kekuasaan itu sendiri. Secara umum seharusnya semua orang paham jika kekuasaan itu bersifat abstrak dan temporer. Karena bagaimana pun kekuasaan itu ada batasnya bahkan tidak perlu mengacu kepada periode berkuasanya seseorang (umumnya 5 tahunan dan bisa 10 tahun maksimal jika berkuasa kembali), dengan sangat terbukanya sistem informasi dan telekomunikasi melalui media sosial, ini sudah memberi batasan tersendiri bagi sang penguasa. 

Yang kedua adalah dikarenakan minimnya mekanisme pengawasan yang ada. Kalau pun sistem pengawasannya baik, anggaran pengawasannya dibuat minim. Jika kemudian sistem dan anggarannya sudah mumpuni, ada lagi masalah kualitas orang-orang yang mengawasi.

Banyak para Eksekutif/Penguasa pada dasarnya tidak mau diawasi. Hal ini dikarenakan membatasi ruang gerak mereka. Banyak dalih yang selalu diangkat mulai dari alasan mengganggu kinerja, adanya konflik kepentingan sampai tuduhan intervensi kepada para pengawas yang ada.

Menjadi pengawas adalah tugas yang tidak mudah. Karena jika ada masalah bukan saja si Penguasa yang bertanggung jawab, namun juga si Pengawas akan mendapatkan getahnya juga, seakan tidak mampu mengawasi.

Pengawas yang benar secara profesional harus selalu menempatkan posisi ekstrim dan tidak kompromistis. Dengan demikian basis independensi nya selalu terjaga. Pengawas harus selalu berorientasi pada basis tata kelola yang legal, good governance, akuntabilitas, dan keterbukaan kepada publik. Pengawas pun harus senantiasa dapat memastikan terjadinya penegakan hukum.

Tidak jalannya pengawasan inilah yang kemudian menjadi celah bagi siapa pun Penguasanya untuk memanfaatkan kekuasaannya yang secara umum berakhir buruk.

Secara religis, iman seorang manusia itu turun naik. Demikian juga moralnya, sangat dipengaruhi oleh proses kehidupan psikologisnya yang berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Keseimbangan dalam kekuasaan pun akan terjadi secara harmoni jika mekanisme “check and balance” terjadi dengan baik. Di sinilah peran para Pengawas jelas menjadi sentranya.

Paradigma berpikir tentang pengawasan ini seyogianya sudah harus menjadi agenda terdepan dalam gerakan Revolusi Mental.

Pengawas juga tidak terlepas menjadi obyek pengawasan lembaga lain yang mengawasi. Sehingga tidak akan terjadi penyalahgunaan hak dan wewenang si Pengawas tersebut.

Semoga paradigma berpikir ini dapat memberikan cara pandang baru bagi penerapan tata kelola Pemerintahan, Lembaga atau pun Organisasi secara baik.

Ingat “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”.

Share this

Pesan Seorang Bapak Tercinta

“Selama Kita Berbuat Baik Kepada Siapapun, Terutama Kepada Republik Ini, Kamu Jangan Takut Miskin dan Kelaparan”.

Pesan Alm. Bpk. H.Eddy Iman Koesno Bin R.Koesno kepada Anaknya bernama Poempida Hidayatulloh Djatiutomo

“Doaku selalu bersamamu Bapakku tersayang. Aamiin.” šŸ™

Share this

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas