Arsip Tag: poempida

Dilematika Pengawasan Di Indonesia

Oleh: Dr. Poempida Hidayatulloh Djatiutomo

Semua orang yang memperhatikan kehidupan kekuasaan di Indonesia rasanya selalu heran kenapa korupsi terus saja menjamur, atau ada program yang baik tapi implementasinya buruk, atau sering terjadi penyalahgunaan yang berlebihan.

Analisa yang dapat berkenaan dengan hal tersebut di atas adalah pertama dikarenakan minimnya pemahaman tentang kekuasaan itu sendiri. Secara umum seharusnya semua orang paham jika kekuasaan itu bersifat abstrak dan temporer. Karena bagaimana pun kekuasaan itu ada batasnya bahkan tidak perlu mengacu kepada periode berkuasanya seseorang (umumnya 5 tahunan dan bisa 10 tahun maksimal jika berkuasa kembali), dengan sangat terbukanya sistem informasi dan telekomunikasi melalui media sosial, ini sudah memberi batasan tersendiri bagi sang penguasa. 

Yang kedua adalah dikarenakan minimnya mekanisme pengawasan yang ada. Kalau pun sistem pengawasannya baik, anggaran pengawasannya dibuat minim. Jika kemudian sistem dan anggarannya sudah mumpuni, ada lagi masalah kualitas orang-orang yang mengawasi.

Banyak para Eksekutif/Penguasa pada dasarnya tidak mau diawasi. Hal ini dikarenakan membatasi ruang gerak mereka. Banyak dalih yang selalu diangkat mulai dari alasan mengganggu kinerja, adanya konflik kepentingan sampai tuduhan intervensi kepada para pengawas yang ada.

Menjadi pengawas adalah tugas yang tidak mudah. Karena jika ada masalah bukan saja si Penguasa yang bertanggung jawab, namun juga si Pengawas akan mendapatkan getahnya juga, seakan tidak mampu mengawasi.

Pengawas yang benar secara profesional harus selalu menempatkan posisi ekstrim dan tidak kompromistis. Dengan demikian basis independensi nya selalu terjaga. Pengawas harus selalu berorientasi pada basis tata kelola yang legal, good governance, akuntabilitas, dan keterbukaan kepada publik. Pengawas pun harus senantiasa dapat memastikan terjadinya penegakan hukum.

Tidak jalannya pengawasan inilah yang kemudian menjadi celah bagi siapa pun Penguasanya untuk memanfaatkan kekuasaannya yang secara umum berakhir buruk.

Secara religis, iman seorang manusia itu turun naik. Demikian juga moralnya, sangat dipengaruhi oleh proses kehidupan psikologisnya yang berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Keseimbangan dalam kekuasaan pun akan terjadi secara harmoni jika mekanisme “check and balance” terjadi dengan baik. Di sinilah peran para Pengawas jelas menjadi sentranya.

Paradigma berpikir tentang pengawasan ini seyogianya sudah harus menjadi agenda terdepan dalam gerakan Revolusi Mental.

Pengawas juga tidak terlepas menjadi obyek pengawasan lembaga lain yang mengawasi. Sehingga tidak akan terjadi penyalahgunaan hak dan wewenang si Pengawas tersebut.

Semoga paradigma berpikir ini dapat memberikan cara pandang baru bagi penerapan tata kelola Pemerintahan, Lembaga atau pun Organisasi secara baik.

Ingat “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”.

​FORGET POEMPIDA

Antara Hipnotis dan Sinoptis

Oleh : Sahabat Radius Anwar
“Malu aku malu pada semut merah/yang berbaris di dinding menatapku curiga/seakan penuh tanya/sedang apa di sini/ menunggu pacar jawabku/” 
-sepenggalan lagu berjudul Semut Merah yang dinyanyikan oleh Obie Mesahk
The genetate of 90’s song  in indonesian era..
Genre film, musik, toys, lifestyle dan segala pernak pernik kenangan yang bangkit memengaruhi sebuah generasi tahun 90an. 
Kita akan memcoba fokus pada narasi 90an. Mereka yang hidup dan bermain di tahun itu kisaran 17- 25tahun. Masa dimana pencarian  dan sekaligus masa krisis identitas. Ingatan ingatan ini tak kan mungkin bisa dihilangkan, ingatan ini sudah menjadi meme (tiruan) yang menempati ruang ruang yang penuh dengan nuasa romantis, dari masa lalu, kenangan, cinta pertama, kehebohan, narasistik, kekonyolan dalam bentuk kenangan apapun 

…seperti sepenggalan lagu tadi itu akan terus meradang di jiwanya.. Ingatan ini akan membangunkan gelora impian di masa lalunya menjadi visi untuk diproyeksikan kuat pada langkah orientasi atas Masa Depan (The Future).
Harapan dan impiannya era 90an belumlah tuntas dan berhenti. Justru kenangan itu akan mengambil momentumnya kembali pada saat fragmen spirit zamannya (zeitgeist), hadir masuk kembali ketika kemapanan umur, prestasi pengalaman hidup 

Di tuangkan kembali

Dalam kalimat

.

” apa impian cita cita anda kelak ?”
Yang sekian lama diLupakan olehnya.saat the generate person mewujudkannya ia malah tak menemukan akar kekuatan yang membentuk Masa Depannya itu..

Wajar sekali bila Emanuel Macron digenerete (love) oleh seorang wanita, yang ternyata adalah seorang guru sastranya saat duduk dibangku sekolah..

 

The generate love (pacar menjadi istri) itu yang mendampingi dan menuntun Macron menjadi seorang Pemimpin Presiden Perancis di usia 49 tahun.
Hal itu tak harus pendamping wanita, bisa rumah, Sekolah. Teman teman, dll. Seperti kenangam Barack Obama, saat ia sekolah dahulu di menteng.  Jalan, gedung, taman, dan bisa bioskop. Bisa membangkitkan yang sekian lama menhipnotisnya, mendrivenya kapan pun dan dimanapun dia ibarat jalinan ingatan yang abadi (rantai abadi semiosis) yang disingkirkan diabaikan dan dibiarkan oleh Rezim Lupa (ingatabnya sendiri sebab kecemasan, frustrasi dan rutinitas sehari hari)
Kenangan dan ingatan ini sama halnya bagaikan cukilan cerita latar dalam film (sinoptis) selalu membingkai fragmen hidupnya di masa lalu dengan sangat mengagumkan yang tak kan bisa ia lupakan.

Seperti halnya dengan cinta pertama walau kadang dengan perasaan malu malu 😄
Fragmen kenangan tahun 90an it is too much love will kill you lagu legendaris 90an Queen, era era Slow Rock🤘
Perjalan sang legend pun dpt memotivasi mengenerate potensi bagi si pelupa yang hidup di era kejayaan sang maestro…
Rezim lupa ini yang selalu menghalang halangi pandangannya (Optis)agar tak bisa menghidupan  Cinta dan Malu malu itu menjadi sebuah narasi (sinoptik) yang apik dan herois di era era sekarang ini.
Ini sama halnya dengan terus menerus Melupakan Poempida yang punya kenangan yang solid pada sebuah dinding kaca di saat itu ia memikirkan tentang seseorang, dalam ruang kelas, di bangku sekolah sambil tangan memegang tas, degub jantung sedikit berlomba, kapan bell sekolah berbunyi, aku bersama..dalam Lupaku aku diingatkan tentangnya..
–*********–

Selamat Atas Suksesnya Program Inventarisasi Asset


Selamat kepada Tim Inventarisasi Aset yang telah bekerja keras menyelesaikan program Inventarisasi Aset BPJS Ketenagakerjaan secara Nasional, dan telah mendapatkan Hasil Penilaian dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) untuk aset tanah dan bangunan (nilai wajar) sebesar 2,68 Triliun Rupiah. Di mana sebelumnya tercatat di Laporan Keuangan 2015 (termasuk anak perusahaan) hanya dibukukan sebesar 940 Milyar Rupiah saja. 

Dengan hasil yang baik seperti akan memberikan tolak ukur dan sistem yang lebih baik lagi dalam pengelolaan aset-aset BPJS Ketenagakerjaan di masa yang akan datang. 

Poempida Hidayatulloh

Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan